|
Sinopsis Buku: Jalan itu sunyi dan menyempit. Aroma harum menerpa wajahku. Gairahku melanda dan melimpah. Lorong sempit itu menjadi sangat pribadi. Hanya untuk pertemuanku dengan Dia. Utami Pidada Di masa mudanya, keberuntungan selalu berpihak padanya. Sebagai mahasiswi cerdas, ia diajak oleh seorang tokoh mahasiswa '66, Rahman Toleng, untuk menjadi anggota parlemen. Karir politiknya cemerlang - bersama-sama sejumlah tokoh yang kelak dikenal sebagai politisi kawakan. Tiga periode beruntun selalu terpilih sebagai anggota DPR. Separuh duniapun dikunjunginya. Namun, jalan hidupnya berubah di penghujung karir politiknya. Perceraian tak terelakkan jadi bahan intrik yang mendepaknya keluar jalur politik. Dari riuh rendah pentas politik, ia memasuki kesendiriannya. Dari sini pelajaran hidup baru benar-benar dimulai. Di usia yang sudah tidak muda, ia bekerja keras mengikis "ego politisi" yang tersisa. Dari orang yang amat mengandalkan logika, ia mulai menikmati "rasa". Mendalami spiritualitas serta belajar emlukis. Tak soal baginya berguru pada Anand Krishna, yang berusia lebih muda darinya. Kesehariannya, mengajarkan pada kita tentang bagaimana berserah diri seutuhnya. Kemiskinan tak mengubah keyakinannya - malah membuatnya penuh syukur untuk setiap sen yang didapatkan dari menjual lukisan t-shirt buatannya. Dalam bimbingan Sang Guru, ia menerima hidup sebagaimana adanya. Sebuah pelajaran amat berharga, untuk kita semua. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |