|
Sinopsis Buku: ...jelas kiranya bahwa klam dari para pengamat dan peneliti yang menilai kejawen merupakan sinkretisme antara Islam dengan nilai-nilai lama yang terdapat di Jawa,perlu sejenak di renungkan dan di koreksi.sebab,dalam sejarahnya,orang jawa tidak pernah melakukan upaya sinkretisasi. Orang jawa hanya melakukan "pembukaan diri".Terbuka menyilahkan nilai dan ajaran dari manapun datangnya ke jawa,dan menerimanya (dalam arti menggunakanya) manakala dinilai berguna,bermanfaat bagi diri pribadi dan masyarakat. Sekali lagi, Jawa bukan sebuah pabrik yang sengaca mencampur berbagi macam agama dan kepercayaan, kemudian memformulasikan,serta memprosesnya untuk menghasilkan suatu produk baru. Spiritualisme jawa benar-benar ibarat telaga seperti disanepakan para leluhur. Ia tidak memanggil ikan , lumut,maupun gangang,hidup dalam habitatnya.Ia tidak menetapkan undang-undang patebayatan bagi setiap makhluk dan benda-benda yang berbeda di sana. Ia hanya menampung, menerima dengan tanggan juga. Maka, telaga itu pun tidak dapat diklaim sebagai milik ikan, milik ganggang, milik cacing,melainkan milik semua yang tinggal dan tumbuh berkembang didalamnya. Demikian pula halnya dengan dunia spiritualisme Jawa,atau kejawen.Ia harus dipahami sebagai media yang sangat terbuka dan tulus menerima berbagai nilai, sehingga nilai-nilai tadi benar-benar menjadi kulit daging orang Jawa. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |