|
Sinopsis Buku: Buku ini, yang meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004,berkisah seorang musafir yang singgah di negeri imajiner. Negeri itu terus-menerus berada dalam kondisi senja. pemandangan senja nan indah ini membuat sang pengembara memutuskan utuk menikati keindahan senja kala di sana.
Ternyata di balik keindahan senja, hiduplah seorang penguasa kejam di negri itu. Melalui teknih bertutur yang khas, seno menceritakan teror, intrik politik, dan pembantaian di negeri senja. Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Asep Sambodja Novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma merupakan novel asli terbaik Indonesia versi dewan juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2004 yang diketuai Manneke Budiman, yang juga merupakan Wakil Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat. Selain Seno, penghargaan yang sama juga diberikan kepada Linda Christanty melalui buku kumpulan cerpennya, Kuda Terbang Maria Pinto (2004). Meskipun berbeda genre, namun karya Seno dan Linda sama-sama menggunakan teknik bercerita yang sangat imajinatif, yang mengingatkan pembaca pada bentuk dongeng, namun disampaikan secara modern. Keduanya juga mengangkat latar belakang politik yang disajikan secara halus, namun tajam seperti pisau silet. Dalam cerpen �Makan Malam� dan �Pesta Terakhir�, misalnya, Linda menyoroti persoalan politik pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang sangat traumatis melalui sudut pandang sebuah keluarga yang menjadi korban peristiwa itu. Dengan menggunakan simbol-simbol yang sangat familier dengan masyarakat politik di Indonesia, Linda memperlihatkan betapa hancurnya sebuah keluarga akibat kebijakan politik Orde Baru di masa awal pemerintahannya. Hancurnya sebuah keluarga akibat dibatasinya ruang gerak untuk bekerja atau mencari nafkah bagi mereka yang dinilai terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), baik secara langsung maupun tidak langsung, merepresentasikan ribuan keluarga lainnya, mengingat PKI merupakan partai politik yang masuk dalam empat besar hasil Pemilu 1955 yang demokratis. Cerpen Linda lainnya, �Kuda Terbang Maria Pinto�, memperlihatkan betapa kekerasan yang dilakukan negara � melalui aparat militer yang dirancang patuh pada garis komando � menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Seorang prajurit, Yosef Legiman, yang diperintahkan membunuh pimpinan gerakan separatis bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, setelah menjalankan tugasnya itu, si prajurit terkejut, karena orang yang dibunuhnya adalah seorang perempuan yang pernah satu gerbong dengannya dalam sebuah perjalanan. Dunia militer yang dijalani Yosef Legiman tidak memberinya kesempatan untuk berpikir dua kali Sebelum mengambil tindakan. Dengan teknik penceritaan yang mirip mendongeng, Seno Gumira Ajidarma juga mengajak pembacanya bertualang ke sebuah negeri yang bernama Negeri Senja. Nama negeri ini sangat asosiatif, mengingatkan kita pada naskah drama Sanusi Pane, Sandhyakala ning Majapahit (1933). Namun, di sisi lain, nama negeri ini juga sangat eksotis, karena di negeri ini matahari tidak pernah tenggelam. Matahari selalu bertengger di cakrawala, sehingga negeri ini selalu dalam keadaan senja. Penduduknya pun mengenakan pakaian yang menutupi wajahnya, sehingga tidak seorang pun dikenali oleh pendatang. Dikatakan mirip dongeng, karena Negeri Senja tidak ada di peta. Orang atau kafilah yang masuk ke Negeri Senja tidak tahu bagaimana caranya mereka sampai ke Negeri Senja. Hanya kebetulan saja mereka bisa sampai ke negeri itu. Namun, seperti juga cerpen-cerpen Linda Christanty, dongeng dalam novel Negeri Senja ini disajikan secara modern dengan penggunaan bahasa metaforis. Kata-kata yang digunakan Seno untuk melukiskan keindahan Negeri Senja pun sangat puitis. Melalui tokoh Pengembara, dengan sudut pandang pencerita akuan-sertaan, Seno mengungkap segala sisik-melik Negeri Senja, mulai dari perempuan-perempuan yang ia temui di rumah bordil, perempuan dengan anting-anting di puting kiri yang tinggal di tepi sungai, perempuan di bawah menara, hingga penguasa negeri itu, yakni Puan Tirana Sang Penguasa yang Buta. Seno tidak menyebutkan Puan Tirana sebagai seorang penguasa yang otoriter maupun diktator. Namun, dari sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa ia seorang tiran. Ini, misalnya, dapat terbaca pada kutipan berikut: Naiknya Tirana ke puncak kekuasaan diselaputi misteri. Tidak seorang pun saksi hidup yang bisa berkisah tentang bagaimana [perempuan itu] bisa berkuasa� di negeri itu catatan sejarah yang bisa dibaca tidak ada sama sekali. Para penguasa negeri itu mempunyai kebiasaan menghapus peranan penguasa sebelumnya, dengan cara menghapus jejak-jejak sejarahnya, sehingga tidak seorang pun bisa membaca catatan sejarah negeri itu (hal. 64). Pada awal masa kekuasaannya Tirana melakukan pembersihan besar-besaran. Lawan-lawan politiknya dari semua golongan disapu bersih, nyaris tanpa sisa. Atas nama kemampuan membaca pikiran, siapa pun bisa ditangkap, ditahan, dan dihukum mati dalam keadaan apa pun. Para Pengawal Kembar [pengawal setia Tirana] menggerebek rapat-rapat dan diskusi, pertemuan lebih dari lima orang sudah dianggap sebagai persekongkolan untuk melakukan pengkhianatan. Tidak ada hukum yang bisa dipegang� [akibatnya] orang-orang Negeri Senja berjuang keras untuk tidak mempunyai pikiran (hal. 67-68). Tindakan Tirana yang demikian mengekang penduduk Negeri Senja memicu perlawanan dari lawan-lawan politiknya. Perlawanan yang dilakukan Komplotan Pisau Belati dan Rajawali Muda, misalnya, dapat dipatahkan oleh Pengawal Kembar, karena Tirana bisa membaca pikiran semua orang dengan perantaraan cahaya. Dengan demikian, kalangan oposisi maupun gerakan bawah tanah selalu melakukan pembicaraan di dalam kegelapan. Bahkan banyak penduduk yang apatis, lebih memilih diam daripada diciduk oleh Pengawal Kembar. Segala upaya untuk menumbangkan penguasa Tirana terus dilakukan oleh lawan-lawan politiknya. Perlawanan itu mencapai puncak dengan dibunuhnya Guru Besar � kekasih Tirana � di tiang gantungan yang biasa digunakan Tirana untuk membunuh musuh-musuh politiknya. Akibatnya, Tirana mengerahkan segala kekuatannya untuk memusnahkan seluruh penduduk Negeri Senja tanpa pandang bulu. Dalam pembantaian besar-besaran itu, seluruh penduduk nyaris terbunuh semuanya, kecuali yang melarikan diri ke seberang sungai di pinggir kota. Tokoh Pengembara yang menyaksikan pembantaian itu bisa menyelamatkan diri karena bersembunyi di balik timbunan mayat-mayat yang sudah bergeletakan di dekat lorong menara yang gelap. Dalam buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004), Ignas Kleden menyebutkan ada tiga kegelisahan penyair (sastrawan) dalam menciptakan karya sastra. Pertama, kegelisahan politik, yang mencerminkan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dalam sebuah struktur sosial. Kedua, kegelisahan metafisik, yakni hubungan manusia dengan alam semesta. Dan ketiga, kegelisahan eksistensial, yang menggambarkan sastrawan menghadapi dan mencoba menyelesaikan persoalan dirinya sendiri. Jauh sebelum ini, dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1982, Kuntowijoyo pernah menyebutkan adanya kegelisahan transendental, yakni hubungan manusia dengan sang pencipta, yang menitikberatkan pada makna di balik kata, sehingga karya sastra yang dihasilkan tidak melulu menonjolkan keindahan, melainkan bisa berarti bagi kemanusiaan dan peradaban. Sastra yang demikian, dinamakan sastra transendental oleh Kuntowijoyo. Kalau merujuk pendapat Ignas Kleden dan Kuntowijoyo di atas, tampak jelas bahwa Seno Gumira Ajidarma hendak memotret realitas sosial politiknya dengan cara yang sangat halus, brilian, dengan penggunaan metafora yang kaya. Tidak ada sedikit pun tanda dalam novel itu yang merujuk ke sebuah negeri yang bernama Indonesia. Tapi, seorang pembaca yang tinggal dan hidup di Indonesia, terutama mereka yang lebih dari setengah umurnya hidup di zaman Orde Baru, tentu bisa merasai bahwa dongeng yang ditampilkan Seno Gumira Ajidarma dalam Negeri Senja sangat kontekstual dengan kehidupan sosial politik di Indonesia. Ulasan Kris Budiman terhadap cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam Iblis Tidak Pernah Mati (1999) � yang dibukukan dalam Pelacur dan Pengantin adalah Saya: Sastra dalam Perspektif Semiotik dan Feminis (2005) � misalnya, membuktikan bahwa karya Seno cenderung bersifat eksoforis (istilah lain dari kontekstual, AS), menjadi teks-teks yang mengacu ke dunia di luar teks. Pengalaman traumatis bangsa Indonesia pada 1965-1966, yang merupakan awal pemerintahan Soeharto, menyisakan catatan sejarah yang masih buram. Sejarawan Denmark, Robert Cribb, sebagaimana dikutip Asvi Warman Adam (Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia, 2004), mencatat sedikitnya 500 ribu nyawa bangsa Indonesia melayang saat terjadi pembantaian terhadap anggota PKI. Namun, hal ini tidak (belum) tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang baik dan benar. Dalam cerpen-cerpennya, Linda menyebut peristiwa pembantaian seperti ini dengan kalimat bersayap, �Ayah tengah melawat ke luar negeri menjelang keributan besar terjadi,� (�Makan Malam�) atau �Istri keduanya, perempuan yang paling ia cintai, menghilang saat cuaca politik di tanah airnya berubah kalut. Sukarno jatuh. Militer berkuasa. Banjir darah di mana-mana,� (�Pesta Terakhir�). Sementara Seno menyebutnya sebagai �menghapus jejak-jejak sejarah.� Dalam novel Negeri Senja, kekuasaan Tirana yang telah memimpin selama 200 tahun terus bertahan hingga sang Pengembara meninggalkan Negeri Senja. Kepergian Pengembara dari Negeri Senja tersebut masih meninggalkan misteri bagi pembaca, yang justru kedua hal itulah yang dapat mengubah sejarah Negeri Senja atau menggantikan kekuasaan Tirana yang demikian mengekang warganya. Tapi, sebagaimana karya-karya Seno lainnya, dalam novel ini pun tidak ada happy ending. Kedua hal yang dimaksud adalah Penunggang Kuda dari Selatan yang menguasai bahasa Negeri Senja tingkat ke tiga (yang hingga akhir cerita tidak terjelaskan siapa gerangan), yang mengingatkan kita pada mitos datangnya Ratu Adil atau Satria Piningit, yang di dunia nyata pun tak terjelaskan hingga sekarang. Selain itu, Kotak Senja yang dititipkan Kaum Fakir kepada Pengembara tidak bisa dibawa ke luar Negeri Senja. Meskipun masyarakat Negeri Senja sangat berharap pada Pengembara untuk membawa keluar Kotak Senja itu, namun Pengembara � sebagaimana Seno � tidak bisa memberi harapan. Padahal, mereka yakin, jika Kotak Senja itu dibawa keluar dari Negeri Senja, maka negeri mereka akan mengalami perubahan dalam segala hal. Di antaranya, matahari tidak akan nyangkut di cakrawala terus-menerus. Hal semacam ini pun dibiarkan Seno mengambang begitu saja, sehingga pembaca penasaran dan menebak-nebak sendiri isi Kotak Senja itu. Dalam epilognya, Seno menulis, �Negeri Senja bukanlah suatu cerita, Negeri Senja adalah suatu dunia, cara bercerita macam apapun akan sulit mewakilinya.� Negeri Senja pun merupakan negeri yang sulit diterima akal. Negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati (hal. 83). Demikian pula novel Negeri Senja ini hanya bisa dipahami jika kita menghayati dongeng-dongeng [politik] yang ditulis Seno. *** ![]()
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |