|
Sinopsis Buku: Jejak Kata, Monolog dalam Renungan adalah buku-ku yang pertama. Buku itu kutulis di sela-sela saat kebisingan kerja mendera, ketidakmenentuan cinta menerjang dan ketika sembahyang dan doa menjadi tindakan dan kebiasaan yang tidak bernyawa. Dua tahun aku berkutat dengan diriku sendiri, sampai tiba sebuah hari, aku menerbitkan keyakinan itu untuk dapat berbagi.
Aku yakin sungguh, bahwa karyaku itu akan melahirkan kisah sendiri dalam kehidupannya. Ia adalah anak yang selanjutnya dibesarkan puluhan dan bahkan ratusan tafsiran. Di antara puluhan dan ratusan itu, aku adalah yang seorang. Aku bukan lagi ibu dan atau ayah, tetapi aku adalah pembaca. Seseorang yang tidak hanya melejitkan tanya ke setiap halaman sebuah karya, tetapi juga yang melumatnya dengan umpatan dan makian. Sedikit pujian mungkin sudah lumayan. Menelusuri kembali jejak kata, aku menemukan kehausan yang mendalam pada kenangan masa silam. Tentang cinta, kehidupan, kematian dan Tuhan. Tentang cinta aku bernostalgia dengan diriku sendiri, agar semakin aku mencintai kehidupan aku semakin menjadi diri sendiri. Tentang kehidupan aku bernostalgia dengan serentetan perjumpaan yang berkelimpahan makna. Tentang kematian aku berkutat dengan diriku sendiri yang kecil dan tidak berdaya. Tentang Tuhan, aku menunjuk jariku dan bertanya �Tuhan, Engkau begitu kuat, hingga aku tidak lelah berdoa�. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |