|
Sinopsis Buku: "Bang... beli kertas karton!"
Tak ada respons. Duh, enggak tahu apa, prakarya anak-anakku harus jadi besok! "Bang, saya mau beli kertas karton!!!" Tiba-tiba si penjaga toko mengulurkan tangan. Eh, eh mau apa nih? Pikirku panik. Namun sebelum aku sempat menghindar, penjaga toko tersebut membuka kaca helmku. "Mau beli apa, Mbak?" Opss! Rupanya dari tadi kaca helm masih tertutup, pantas saja aku teriak-teriak enggak kedengaran! *** Konon, wanita lebih sigap dan mampu ber-multitasking dibandingkan pria. Dibatasi waktu yang tidak pernah melampaui 24 jam sehari, jadilah para ibu dalam buku ini jumpalitan menangani aneka urusan. Dari urusan anak yang mulai puber, anak yang hobi mogok sekolah, gonta-ganti PRT, hingga pengasuh yang hobi pacaran dan membawa kabur anak asuhnya! Kisah-kisah dalam buku ini adalah kumpulan pengalaman para ibu dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, wanita karier, sampai single mother. Repot? Pasti. Stres? Bisa jadi. Tapi, jelas tak ada bandingannya dengan cinta, bahagia, dan pelajaran berharga yang diterima. Simak kisah mereka dalam spektrum mengasyikkan: haru biru, menggelitik, ceria, dan penuh perenungan. Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Dina Begum Sebelum membaca buku ini kupikir, apa sih istimewanya? Paling-paling hanya cerita ibu-ibu yang berkeluh kesah saja. Menurutku, pengalaman hidupku sendiri sudah hebat, keras, dan penuh perjuangan tanpa henti. Pendek kata Xena the Warrior Princesslah. Namun, cerita pendek demi cerita pendek membuatku mesem-mesem, teranguk-angguk dan akhirnya menjejalkan buku ini tas putri sulungku yang sudah menginjak usia remaja untuk dibaca. Sesulit apa pun pengalaman yang diceritakan, para penulis mengungkapkannya dengan ringan. Walau demikian, aku masih bisa turut merasakan desakan yang terkandung. Di samping itu, seribet apa pun, mereka masih sempat cengengesan menertawakan kejadian yang terkadang memalukan yang mereka alami. Jumpalitan secara harfiah, biar seimbang antara pikiran dan tubuh. Menurut pengalamanku jadi ibu, kata 'jumpalitan' sama sekali engga berlebihan. Sebagai ibu di rumah tanggaku (ya iyalaah, syapa lagee!) akulah yang paling tahu bagaimana cara membagi telur dadar agar semuanya kebagian secara adil (baik itu dipotong 2, 3, atau 4), akulah yang paling tahu di mana letak obat-obatan disimpan, akulah yang paling tahu barang apa yang harus digadaikan kala keuangan seret, dll. dll. Pada saat yang sama harus tetap merawat diri dan mencari nafkah, bahkan pada saat kesehatan kurang prima pun aku layaknya seorang ibu yang biasanya tetap menjalankan roda kehidupan rumah tangga, pokoknya asal masih bisa berdiri - dan mengetik :D. Walaupun sudah tahu bahwa kisah hidupku tidak unik, tapi dengan membaca buku ini aku menyadari bahwa aku tidak sendirian di dunia ini dan merasa lebih bersemangat dalam menghadapi hari. Sambil mengucap basmalah aku mengucapkan 'mantra'ku: kita akan bertahan, semoga Gusti Allah meridhoi. Kalo Gusti Allah engga meridhoi, kita tetap akan bertahan. Untuk foto-foto jumpalitan yang lain, lihat: http://www.facebook.com/album.php?id=521763605&aid=36967 ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Rika Isinya menarik, dan lucu. Saya juga mengalaminya. bravo Mom!! ![]() Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |