|
Sinopsis Buku: ...Sabar, Bu. Hasan pasti pulang," suara Fatma terdengar berat bergetar. Hatinya risau. Tapi Fatma tak mau menunjukkan kerisauannya di depan Hamidah. Perempuan tua itu tentu jauh lebih tersiksa dari pada dirinya. Fatma tak sanggup membayangkan kesedihan dan kekecewaan seperti apa yang dialami perempuan tua yang kini duduk didepannya.
"Sampai kapan aku harus bersabar?" suara Hamidah nyaris tak terdengar. "Sampai Hasan pulang, Bu" "Pajan? Kapan?"� ...Hasan, pemuda lugu, polos, yang selepas SMP pergi merantau ke Jakarta. Salman tidak tahu bagaimana awal mula hubungan asmara Hasan dan Fatma bisa terjalin. Tapi, konon, Hasan dan Fatma memang sudah dijodohkan sejak kecil. ... ...Salman mengembalikan foto itu pada Hasan. Meski begitu, bayangan seraut wajah cantik itu terus berkelebat-kelebat dalam benaknya. Jatuh cinta? Hmm. Tegakah mengkhianati teman sendiri? Kadang terlitas di benak Salman bahwa sebenarnya dirinya jauh lebih pantas mendapat Fatma. Tapi kenapa Fatma justru memilih Hasan?� Kami suguhkan kepada Anda sebuah kisah tentang kestiaan, penghianatan, teror, dan penantian. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |