|
Sinopsis Buku: Dalam menulis cerpen, AYH banyak memakai pendekatan humanisme-religius dalam gaya realis dan surealis, serta kadang-kadang ironistik dan karikatural. Meskipun, ada juga cerpen-cerpennya yang bergaya romantisme-religius. Dalam buku ini bahkan, ada juga yang berkesan religius-sentimental, yakni Pertobatan Aryati, yang sebenarnya memiliki semangat sufistik: semangat untuk menghadap Tuhan setulusnya tanpa embel-embel apapun.
Gaya surealistik dapat Anda temukan pada cerpen Kepala Profesor dan Sebutir Kepala dan Seekor Kucing. Mungkin, cerpen ini akan mengingatkan pembaca pada gaya Putu Wijaya dengan cerpen-cerpen 'teror mental'-nya. Tapi, AYH mencoba untuk lebih 'maju' dengan sentuhan sains dan visi futuristik pada Kepala Profesor serta ironi-simbolistik pada Sebutir Kepala dan Seekor Kucing - cerpen ini pernah dipuji oleh almarhum HB Jassin dan beliaulah yang meng-acc-nya untuk dimuat di Majalah Sastra Horison. Gaya ironi juga ada pada cerpen Ngidam Sang Istri, Arisan, Konglomerat Salimin, Wangsit Pak Lurah, Mati Tertawa dan Luapan Cinta untuk Kampret. Namun, pada Wangsit Pak Lurah, Mati Tertawa dan Luapan Cinta untuk Kampret lebih terasa gaya simbolik-karikaturalnya. Sementara, cerpen-cerpen Ombak Berdansa di Luquisa, Puntung Berasap, Pistol, Perempuan yang Menghunus Pisau, Tragedi Tengah Malam dan Masjid Terakhir, lebih bergaya realis, yang mengandalkan permainan karakter dan konflik antara tokoh-tokohnya. Namun, tetap bermuatan 'sindiran sosial' yang kental. Gaya cerpen AYH dalam buku ini memang cukup beragam, sejak realis sampai surealis. Sebagai cerpenis, AYH memang tidak ingin mengkotakkan diri hanya ke dalam gaya cerpen tertentu saja. Sebab, baginya beragam tema dan serakan persoalan di masyarakat, sering tidak dapat dipaksa untuk dikemas ke dalam satu gaya cerpen tertentu saja. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |