Cari berdasarkan:



Add Me on Facebook!
 








Add Me on Facebook! 
oleh: Ali Zaenal
> Komputer » Internet » General
> Life Style » SMS

List Price :   Rp 30.000
Your Price :    Rp 24.000 (20% OFF)
 
Penerbit :    Gagas Media
Edisi :    Soft Cover
ISBN :    9797803406
Tgl Penerbitan :    2009-05-00
Bahasa :    Indonesia
 
Halaman :    x + 152
Ukuran :    140x210x0 mm
Sinopsis Buku:
Dari sekian banyak situs social networking, Facebook menawarkan banyak sekali aplikasi yang membuat kita betah berlama-lama menguliknya. Selain menyediakan layanan standar seperti e-mail, comment, show profile, game, dan upload foto, Facebook bakal memuaskan kamu yang narsis, dengan nge-tag foto. Tinggal tandai (tag) saja foto yang kamu upload, teman-temanmu bisa ikut melihat.

Buat kamu yang suka iseng ngisi kuis di majalah, selamat, deh... kamu bakal dibuat betah nongkrongin Facebook. Jangan kaget kalau nanti hasilnya cuma lucu-lucuan. Kesal? Bikin aja kuis sendiri yang kamu mau, gampang, kok...!




Resensi Buku:

  Langkah Baru Menolak Lupa
oleh: Rimbun Natamarga
Saya bukan orang yang gagap teknologi (baca: gaptek). Tapi, saya pun bukan orang yang terus mengikuti teknologi. Saya biasa dengan layanan pesan singkat (sms) di ponsel ketimbang membuat akun di facebook. Dan saya tidak pernah punya pikiran untuk memanfaatkan facebook dalam hidup saya, sampai suatu hari. Laiknya para perantau, lebaran kemarin, saya dan keluarga ikut mudik ke kampung. Meski tidak jauh, kami bisa merasakan bagaimana beratnya mudik. Tercatat, seminggu lebih, kami lama di kampung. Cerita baru dimulai ketika kami kembali ke rumah kami di kota. Saya pribadi tidak menyangka. Sepekan ditinggal, bukan bersih, rumah kami malah kotor. Bisa dimaklumi, beberapa hari tidak ditempati dan tentu saja: tidak diurus. Rumah kami berdebu. Dan payahnya, ada tikus masuk lewat lubang pembuangan di WC. Hari pertama kami kembali ke rumah adalah sebuah kekalahan tanpa balas. Kami betul-betul merasa letih dan butuh istirahat yang mesti. Kami tidur di tengah pengap bau pipis tikus yang memenuhi ruangan. Hari kedua, saya pikir, kami harus beres-beres. Di tengah membongkar perabot-perabot itulah, pada keesokan harinya, saya menemukan album tua itu: sebuah album biru tua yang besar, berdebu dan apak. Saya ambil dan saya pisahkan. Saya teringat lagi. Berapa tahun sudah album itu teronggok tak disentuh? Padahal di album itulah 90 persen keping-keping masa remaja saya tersimpan. Setamat SD, saya pergi ke satu pondok pesantren di Jakarta. Pesantren saya itu terkenal. Saya yakin, hari ini, bicara soal pesantren saya itu, orang-orang pasti akan teringat dengan Arifin Ilham. Memang, dia adalah dai salah satu lulusan pesantren saya itu. Bedanya, dia hanya sekolah tiga tahun, sedang saya enam tahun. Biasanya, mengikuti tradisi-tradisi SMU yang sedang marak waktu itu, ketika duduk di bangku kelas terakhir dan karena itu pasti akan meneruskan ke perguruan tinggi, kami juga merencanakan sebuah album kenangan yang berisi foto-foto atas segala kegiatan kami selama sekolah di pesantren itu. Semua tentang kami�itu khusus tentang angkatan kami, mulai dari kelas satu tsanawiyah sampai kelas tiga aliyah. Album itu kami namai dengan Album Milenium (Alumunium). Melihat album itu, ada rasa kangen yang menelusuk, pelan-pelan dan tak banyak omong, ketika satu per satu saya buka halaman-halaman album itu. Sudah sepuluh tahun, saya ingat, album itu ada di rak buku saya. Dan waktu, demikianlah, seperti gagah ketika membawa semua itu. Sebaris demi sebaris deretan foto-foto masa lalu terlihat, bercerita lebih banyak tentang dulu yang pernah ada. Saya yakin, foto-foto itu lebih fasih bercerita kepada saya ketimbang sejumlah kalimat panjang yang bisa ditulis di atas kertas. Barangkali, saya mulai melankolis sekarang. Tiba-tiba saja, saya rindu ingin bertemu dengan orang-orang dalam foto itu yang dulu pernah saya jumpai. Mungkin, pertanyaan yang paling umum, yang paling bisa mewakili, adalah bagaimana mereka sekarang. Apa kabar mereka? Sudah berkeluarga? Di mana dan lain sebagainya. Satu kesadaran lain tiba-tiba juga menyeruak: betapa cepatnya waktu, alangkah gagahnya waktu melibas kita. Rasa-rasanya, seperti baru pekan kemarin peristiwa-peristiwa dalam foto itu terjadi. Padahal sudah bertahun-tahun kejadian yang sebenarnya. Saya pun ingat kemudian, sepertinya baru kemarin ketika saya masih asyik main kelereng di halaman depan, main benteng-bentengan di lapangan bulu tangkis, main bola kaki di lapangan voli komplek. Seperti baru kemarin saya masih lari-lari pulang ke rumah setelah seharian pergi ke SD yang jauhnya sekitar 15 km. Saya ingat, betapa bosannya, ketika mesti menunggu oplet agar dapat sampai di rumah. Terus terang, memang, serasa baru kemarin saya merasakan itu semua. Dan foto-foto itu? Saya ingat pula, bagaimana capeknya, kalau pekan mesti diawali dengan upacara bendera. Baju seragam mesti lengkap, rambut rapi-jali dan tidak lebih dari batas-batas yang telah ditentukan. Lalu, setiap mau ujian catur wulan selalu harus kelabakan. Buat menyiapkan buku-buku catatan tiap pelajaran, buat menjaga kesehatan biar tidak sakit, dan sebagainya dan seterusnya, yang kita semua sebagian besar pernah merasakannya. Belum lagi acara-acara di luar itu. Seperti ekstrakurikuler yang menyenangkan tapi sering bikin dongkol. Atau mungkin kumpul-kumpul di luar sekolah, seperti buka puasa bersama, sholat tarawih bersama, hiking bareng ke gunung, camping yang harus di bulan-bulan musim kemarau, dan sudah tentu acara perpisahan setelah selesai EBTANAS� Sepuluh tahun yang lalu, rasanya, tidak mungkin mengetahui kabar teman-teman kita lewat internet. Waktu itu, ponsel masih tak terjangkau oleh orang banyak dan internet masih sebagai barang mewah di tengah-tengah kita. Untuk menemui teman, kita mesti tahu alamat. Atau kalau tidak, kita mencatat nomor telepon rumah teman-teman kita. Ingat, waktu itu, ke luar kota, tarif telepon adalah interlokal. Pada hari ini, untuk mengetahui kabar teman-teman ternyata jauh lebih gampang. Dalam hitungan detik, saya bisa mengetahui kabar teman-teman saya lewat facebook dan lengkap dengan foto-foto mereka. Saya juga bisa lihat dan berbincang dengan mereka lewat akun facebook saya. Dan, memang, luar biasa. Saya seperti mimpi bisa melihat mereka yang sekarang berada di berbagai macam tempat. Ada di Madinah, di Kairo. Mungkin pula di Boston, Amerika Serikat. Ada yang di ujung Sumatera, ada Indonesia Timur. Ada yang masih di Jakarta dan seterusnya. Dari facebook juga, saya mempelajari riwayat mereka selama sepuluh tahun belakang, meski itu lewat foto-foto. Seperti kebanyakan pengguna akun facebook, mereka juga memajang foto-foto mereka yang mengabadikan momen-momen terpenting dalam hidup. Saya perhatikan, mereka memajang foto-foto hari pernikahan mereka. Hampir semuanya, bahkan. Foto-foto tentang profesi mereka juga tidak ketinggalan. Dan untuk bagian ini, saya berulang kali terkaget-kaget. Di antara mereka ada yang jadi pengacara. Ada yang jadi PNS. Ada yang jadi peneliti. Ada yang jadi penulis, ada yang terus dengan magisternya. Pokoknya, ada semacam rasa senang dan bangga melihat mereka menjadi orang-orang besar. Begitu pula, ada yang menjadi istri seorang pengusaha. Ada yang jadi wanita karir. Ada yang jadi pebisnis. Ada juga yang hanya mengurusi rumah tangga sambil kecil-kecilan berdagang. Ada yang masih menunggu. Ada yang serius kuliah. Tetapi, beda dengan bagian sebelumnya, untuk bagian ini, tidak hanya kejutan-kejutan yang saya dapati, tapi juga cemburu dan, sudah pasti rindu. Saya, kira, saya makin tambah melankolis sekarang. Dan saya pun melamun. Melamuni itu, tiba-tiba saya ingat Milan Kundera. Dia pernah menulis The Book of Laughter and Forgetting. Di dalamnya, dia menulis tentang ide untuk menolak lupa. Manusia, katanya, mesti menolak untuk lupa akan segala sesuatu. Karena itu, muncul dongeng-dongeng, legenda, prasasti, hikayat, babad, dan buku-buku sejarah. Manusia memang gampang lupa. Semua contoh itu merupakan model untuk milenium yang lewat. Orang-orang ramai menulis dan menerbitkan buku untuk tidak lupa. Kita ingat, raja Mulawarman tidak begitu saja meninggalkan prasasti, dulu, ketika kita pun belum lahir. Dia punya maksud dan itu, mungkin tanpa disadarinya, agar tidak lupa. Mungkin juga Raden Saleh, dia melukis bukan semata-mata atas dorongan estetis dalam dirinya. Tapi juga, saya yakin ini, untuk pengabadian atas suatu hal yang tak sepatutnya dilupakan orang waktu itu dan nanti. Bagaimana hari ini, saya kira, kita sudah tahu. Blog dan akun-akun twitter, facebook, mulai jadi pengganti-pengganti baru untuk menolak lupa. Dan rasa-rasanya, itu semua penting bagi siapa saja. Menjadi manusia berarti menjadi orang yang, kalau bisa, jangan pikun. Ketidaksempurnaan mencari jalannya dan salah satunya lewat pikun. Wajar, kalau begitu, bagaimana seorang tua yang pikun tak pernah menjadi manusia yang bernilai lebih di hadapan orang-orang muda yang masih ingat segala sesuatu, dari teori-teori di bangku kuliahan sampai warna kesukaan istri di rumah. Tapi memang manusia mesti menolak lupa. Dalam keteringatan yang abadi ada haru, menyeruak dan membuat seseorang mampu untuk tersenyum dan memaafkan segala kekecewaan, keputusasaan. Manusia merasa bahagia ketika bisa mengingat dan mengambil sesuatu yang positif dari masa lalu. Terus terang, saya tidak tahu. Mana yang lebih parah: kelupaan masyarakat atas satu peristiwa yang berlalu atau kelupaan seseorang atas masa lalu pribadinya.[]


Add your review for this book!


Buku Sejenis Lainnya:
oleh Ir. Astu Pudjanarsa, MT, Prof. Ir. Djati Nursuhud, MSME
Rp 60.500
Rp 51.425
  [selengkapnya]
oleh Putu Hadi
Rp 37.000
Rp 29.600
  [selengkapnya]
oleh Ahmad Musyaffak
Rp 49.800
Rp 42.330

CD interaktif merupakan salah satu implementasi dari multimedia. Di mana terdapat hampir semua konten multimedia dalam sekeping CD, yaitu ...  [selengkapnya]

oleh Jefferly Helianthusonfri
Rp 44.800
Rp 38.080

Anda pilih punya tuyul pencetak uang atau website pencetak uang? Lebih baik punya website pencetak uang. Selain halal, website pencetak uang ...  [selengkapnya]


Lihat semua buku sejenis »




Advertisement