Cari berdasarkan:



Seribu Tahun Cahaya
 








Seribu Tahun Cahaya 
oleh: Mad Soleh
> Non Fiksi » Lainnya

List Price :   Rp 40.000
Your Price :    Rp 34.000 (15% OFF)
 
Penerbit :    Pustaka Bimasakti (K)
Edisi :    Soft Cover
ISBN :    9791944205
ISBN-13 :    9789791944205
Tgl Penerbitan :    2009-04-00
Bahasa :    Indonesia
 
Ukuran :    0x0x0 mm


Resensi Buku:

  
oleh: Pustaka Bimasakti
Seribu Tahun Cahaya: Antara Ironi dan Humor Surabaya Post, Minggu, 27 September 2009 | 00:40 WIB Antara Ironi dan Humor Judul : Seribu Tahun Cahaya Penulis : Mad Soleh Penerbit : Pustaka Bimasakti Tebal : vi + 245 halaman Cetakan : April 2009 Peresensi : Risang Anom Pujayanto Segala kerumpilan ini seperti tampil dalam suatu tamsil sebagaimana sang profesor lalai mengernyitkan dahi; yang ironisnya kelalaian itu sama akutnya seperti linglungnya sang profesor ketika mencari kacamata baca yang tertinggal di batok kepalanya sendiri. Sederhananya, sensasi kegembiraan membaca science fiction setara atau sama menakjubkan ketika memaknai fenomena sinyum simpul yang jarang terjadi pada diri para saintis. Dalam khasanah kesusastraan science fiction, mayoritas komponen nilai-nilai ilmu sains dimanfaatkan sebagai dasar keseluruhan laju cerita. Biasanya, tema yang diusung dalam tiap cerita masih dalam koridor serius. Dalam pengertian, misalnya, cerita masih berkutat lazimnya persoalan-persoalan humanisme, pembunuhan, romantika, atau pun kehidupan yang selama ini masih dipertanyakan dalam hal solusi terbaiknya. Bagi penulis yang menginginkan solusi yang menyeluruh, tidak main-main dan diharapkan tidak terbantahkan laiknya rumusan ilmu pasti, maka model futuristik adalah pilihan jawaban nomor wahid. Sebab, dengan memanfaatkan dasar futuristik yang memiliki beberapa postulat pendukung seperti latar waktu masa depan, rekayasa latar tempat atau pun struktur sosial yang berbeda dengan masa kini, diketahui dapat memberi kesempatan untuk menempatkan kebenaran mutlak secara bebas menurut rekonstruksi yang diangan-angankan sang pengarang. Dan itulah yang biasanya terjadi dalam sains fiksi. Namun science fiction novel Seribu Tahun Cahaya karya Mad Soleh berbeda. Keseluruhan novel setebal 245 halaman ini dikemas dalam pembagian separuh ironi dan separuhnya lagi humor. Keseriusan dalam mengangkat tema-tema dengan tingkat problematik tinggi, diganti dengan selera humor yang tinggi tanpa menanggalkan vitalisasi masalah yang sedang dihadapi manusia. Karena itu bisa dikatakan novel ini sebagai parodi sains fiksi. Keberhasilannya membuat malu dengan strategi pengungkapan yang tidak memalukan itu patut diacungi sepuluh jempol oleh lima orang. Adapun kualitas nilai-nilai moral di dalamnya disinyalir justru lebih mengena dan memberikan ikatan batin tersendiri dalam diri pembaca ketimbang pendahulunya: sains fiksi tanpa selera humor. Dalam bab �(Wo)men Cloud the Mind�, misalnya, sistematika penggunaan rumus persamaan matematika yang biasa diinput dengan angka-angka malah diisi dengan kata-kata. Bersandar pada peristiwa fiksi Albert Einstein, kelakar bermuatan moral ini pun semakin menarik. Persamaan ini ditemukan oleh Einstein tapi ia tidak mempublikasikannya di jurnal ilmiah. Manuskripnya ditemukan di antara tumpukan buku-buku Einstein lima belas tahun setelah ia meninggal. Diduga kuat, Einstein malu mempublikasikan penemuannya ini karena ia takut dimarahi istrinya. Isi penemuannya: � To Find a (wo)man, you need time and money. So: (wo)man = time x money � Time is money. So: Time = money � (wo)man = money x money = money� � Money is root of all problems Money = √problem Money� = (√problem)� = problem (wo)man= problem (hal 211) Waktu yang diceritakan dalam narasi berada pada logika waktu tahun 2100. Di mana pada masa itu, Indonesia telah berubah menjadi negara federal: Republik Indonesia Serikat dengan puluhan negara bagian. Ibukota terletak di Lamongan. Seiring kemajuan pesat di bidang perekonomian dan teknologi, Indonesia menjadi negara adikuasa. Negara pesaingnya ialah negara Tanpa (a) Merica. Tetapi, pusat dunia berada di tangan Indonesia. Hal ini berimplikasi dalam pemakaian bahasa. Bahasa yang digunakan negara-negara dunia di tahun 2100 ialah bahasa Indonesia beserta ragam bahasa daerah seabad sebelumnya. Situasi chaos kacau pada dunia karena faktor alami membuat Indonesia harus segera membuat keputusan untuk kelangsungan hidup spesies homo sapiens atau umat manusia. Di awal abad 21, fisikawan asal Inggris Stephen Hawking menyarankan agar manusia melakukan kolonialisasi di planet lain yang mirip dengan bumi. Seiring dengan berjalannya waktu, gagasan Stephen Hawking pun perlu dipikirkan mengingat kondisi bumi di akhir abad 21 sudah terlalu panas, cemar dan rusak. Indonesia memutuskan melaksanakan proyek penelitian antariksa ke planet Zarah. Planet ini berada di luar gugusan galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan teknologi abad 21, untuk mencapai ke planet Zarah diperkirakan membutuhkan waktu 50.000 tahun. Sebuah hil yang mustahal. Tetapi dengan perkembangan kecanggihan teknologi mutakhir yang terus dikembangkan, pada akhirnya untuk mencapai planet Zarah itu hanya akan menghabiskan perjalanan satu bulan. Berawal dari inilah cerita-cerita memikat dan kecemerlangan permainan kosa-kata banyak mewarnai cerita. Salah satunya, katakanlah rutinitas pekerjaan yang membuat orang teralienasi seabad sebelumnya, hingga kondisi dehumanisasi menjadi kenyataan yang harus diterima apa adanya tanpa sanggup dilawan, ternyata mampu dikritisi dengan cara penyampaian kelakar yang sangat cerdas. Bab �Tugas Penting Berikutnya� adalah contoh konkretnya. Sedetik pasca kepulangan enam antariksawanti dari planet Zarah, mereka�Bahlul (Indonesia), Tong Koo Song (Korea Bersatu), John Lemon (Belanda), Siti Nurhalida (Malaysia), Cui Lan Cao (Cina) dan Yak Opo Iki (Jepang)�mendapat mandat selanjutnya. Tentu perasaan mereka berdebar-debar tegang mendengarkan kata-kata pimpinan: Dulkamit. Dalam hati kecil mereka, protes. Pasalnya, baru saja sedetik yang lalu tiba di bumi dan sekarang harus langsung menerima tugas selanjutnya. Tetapi segala pikiran buruk tersebut lenyap ketika mengetahui yang dimaksud tugas selanjutnya adalah tidur. �Tidur itu sama pentingnya dengan bekerja!� (hal 84). Tabiat buruk manusia abad 21 yang selalu menilai manusia dengan ukuran matematis juga dieksplisitkan kepada pembaca. Kemajuan peradaban yang dibangun di atas teknologi tampaknya telah menghilangkan misteri kepribadian unik manusia. Kebiasaan menyederhanakan peliknya persoalan kehidupan menjadi alat memukul rata pada semua sendi kehidupan, tanpa terkecuali untuk menilai manusia. Sayangnya, sepandai-pandainya orang memprediksi, namun rahasia kehidupan tetap akan menjadi misteri yang tidak dapat terkuak dengan nalar manusia. Bahkan dalam cerita ini, sepelenya sambal dikatakan sama misteriusnya dengan alam semesta. Menurut hemat saya, penjelasan humoris artistik dan penuh logika sainstik merupakan titik utama kekuatan novel ini. Barangkali jika disebutkan satu persatu, keunikan yang tertera dalam Seribu Tahun Cahaya tidak akan selesai dalam satu-dua lembar kertas. Karena itu, pembaca bisa membedah karya ini dan merasakan sensasinya sendiri. Hanya saja, sayangnya, penjelasan-penjelasan indah tersebut hanya terangkum dalam narasi besar yang terlampau sederhana. Kesederhanaan tersebut dapat dipahami karena cerita usai bersamaan dengan kesuksesan peluncuran pesawat luar angkasa Garuda Pancasila II di planet Zarah. Kesan yang terburu-buru untuk segera menyelesaikan keseluruhan kronologi cerita juga tidak menambah keapikan rancangan penjelasan humoris artistik dan logika saintik sebelumnya. Jati diri George Bender dan Perempuan yang (tidak) Terbuat dari Bayang-Bayang alias Siti Nurhalidah mudah diketahui tanpa proses yang berbelit-belit. Begitu juga, sentimentalitas perasaan yang seharusnya dapat ditransfer ke pembaca hanya dideskripsikan melalui kata-kata. Perasaan senang tidak digambarkan melalui mimik, gesture tubuh atau ungkapan verbal, melainkan hanya terwakilkan dengan kata seperti dia sedang senang atau sedih. Akan tetapi, kekurangan secara struktural penceritaan seperti itu dimungkinkan memang sengaja ditampilkan demikian oleh pengarang. Dengan alasan, sebagai penanda pemikiran bahwa separuh kehidupan manusia adalah ironi dan separuhnya lagi adalah humor. Sempurna.*


Add your review for this book!


Buku Sejenis Lainnya:
oleh Park Dong Sun
Rp 121.000
Rp 96.800
Simple Thinking of Blood Type

Tahu nggak sih kalau orang ...  [selengkapnya]
oleh @terimakasihayah
Rp 49.000
Rp 39.200
  [selengkapnya]
oleh Park Dong Sun
Rp 63.000
Rp 50.400
Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?

Itu semua karena ...  [selengkapnya]
oleh Helen Ishwara
Rp 69.000
Rp 58.650
  [selengkapnya]


Lihat semua buku sejenis »




Advertisement