|
Sinopsis Buku: Di dalam buku ini masing-masing penulis yang tersebar di berbagai penjuru dunia, memberikan alasan apa yang membuat mereka betah bertahan di negeri orang. Bidikan dan sorotan tajam terhadap kebaikan sistem dan keteraturan serta kenyamanan di negeri orang pun diceritakan. dengan harapan semua penuturan itu dapat dijadikan cermin bagi kita bangsa Indonesia untuk maju dan bisa sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Tak dapat dielakkan berbagai krisis muncul di bumi pertiwi, mulai dari kemerosotan moral, ekonomi, politik, bencana alam, dan berbagai macam kendala timbul menghambat laju grafik pembangunan di negeri kita tercinta. Untuk itu mari kita berkaca, mengikuti jejak bangsa-bangsa lain yang berhasil sukses dan maju. Selamat tinggal mala petaka, semoga Indonesia mendatang makin bahagia. Ketika pemerintah masih sibuk untuk memikirkan diri mereka masing-masing, tak ada salahnya kita masing-masing pribadi untuk mengubah sikap dan prilaku. Bila kita sepakat insyaAllah, negara kita akan membaik. Jepang, "saat ini pun dia mengalami krisis kepemimpinan, tapi karena pribadi-pribadi tangguh dan beretika mengisi dan mengatur negaranya, keadaan tetap stabil." Nah di negeri kita? pribadi-pribadi pun beranekaragam polanya. Sangat unik membaca buku ini, banyak informasi yang bisa Anda petik di dalamnya. Mereka yang betah di luar negeri bukan tak cinta RI, bukan pengkhianat bangsa, atau tidak nasionalis. Nasionalis tidak layak diukur dari posisi seseorang dibumi Allah ini, tapi dari tindakan nyata yang diperbuat untuk bangsa. Merdeka, jayalah Indonesia,.. selamat tinggal kesuraman di Ina itulah yang ingin kami capai dari peluncuran dibalik buku ini. Semoga terwujud hendaknya, amiin. Sebagai manusia, yang tak luput dari cacat, tentu kami pun tak dapat mengelakkan bila ada sisi kurang dari buku ini. Tapi semuanya telah kami upayakan dengan maksimal. kritikan dan masukan sehat yang membangun sangat diharapkan dari semua pembaca. BAGIAN BELAKANG BUKU "Bukan berarti hidup di Jerman serba enak. Satu dua tahun pertama, saya sempat tidak kerasan." "Lambat tapi pasti, kecintaan saya ke kota ini, merambat dan mematri sangat dalam. Sungguh ... dipikir-pikir 14 tahun hidup di Jerman adalah guru kehidupan terbaik bagi saya." "Dalam hati kecil saya bertanya, salahkah bila saya hidup di Malaysia?" "Sungguh! Makin hari, makin lama tinggal di Negeri Sakura ini, membuat diri ini makin takjub, kagum, dan optimis, sehingga memacu semangat hidup makin tinggi." Apa yang membuat anak bangsa bertahan, bahkan betah tinggal di negeri orang? Temukan jawabannya dalam buku ini. Membaca buku ini, mengingatkan kita dengan kisah Abdus Salam (ilmuwan asal Pakistan, Professor di Imperial College of London), muslim pertama yang memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang Fisika teori. Suatu hal yang sulit beliau capai jika tetap bertahan ditanah kelahirannya. Tetapi pengalaman penulis wanita-wanita tangguh Indonesia di buku ini, yang tersebar di berbagai negara, memberikan warna tersendiri dan menjadi keunggulan dari buku ini. Buku ini baik dibaca oleh mereka yang sedang berjuang di negeri orang dan bagi orang-orang yang cinta akan Indonesia. (Prof. Edison Munaf, Guru besar Universitas Andalas, sekarang sebagai Atase Pendidikan di KBRI, Tokyo.) Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |