|
Sinopsis Buku: Entah Kenapa, Septi tiba-tiba merasa gelisah. Ini kali kesekian ia melihat Kadis begitu tak berdaya. Dan cinta, mengapa ia seringkali tumbuh tak pada tempatnya? Cinta Kadis padanya. Cinta Septi pada Lanang, dan Cinta dokter iman pada Septi. Duh, Gusti, manusia memang tumbuh membawa cintanya masing-masing, tetapi adakah tempat yang tepat untuk menyuburkannya tanpa harus kecewa.
Septi menghembuskan napas, diam-diam ia membayangkan perasaan Amel yang selama ini jatuh bangun mengejar simpati dokter iman. Duh, menagapa cinta begitu rumit. Melingkar seperti bola, dan bila satu ujung sudah hampir teraih, bola itu menggelinding hingga terlepas. Dan yang terpegang ujung yang lain, begitu seterusnya. Ia bahkan tak tahu dimana sesungguhnya cinta miliknya. Cinta itu seakan berada dekat didepan mata. Tetapi, itu cuma tinggal bayang-bayang. Septi mengangguk, tersenyum sedih saat melihat wajah dokter Iman sangat berbinar. Ah pasti akan ada beban lagi kini. Setelah Kadis pergi, kini dokter Iman mulai menancapkan kuku cintanya.. Tuhan, tidak bisakah aku hidup tenang tanpa dikejar-kejar cinta yang tak kukehendaki? Dokter hampir tak punya kekurangan, tapi itu tidak berarti semua orang mencintaimu. Dokter tahu, mencintai orang yang mencintai kita atau membuat orang yang mencintai kita bukanlah sesuatau yang sederhana. Ada banyak hal yang terlibat di dalamnya. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |