|
Sinopsis Buku: Ratih Sang adalah pemeluk teguh. Puisi-puisinya lahir dari keteguhan imannya. Kebenaran telah menuntunnya menuju sumber dari segala sumber yang telah mengaruniainya pencerahan. (Danarto, penulis, budayawan)Ratih Sang itu sudah merupakan puisi yang indah. Bayangkan jika puisi membuat puisi, pasti hanya keindahan rasa yang terasa. (Radhar Panca Dahana, sastrawan, budayawan)Puisis-puisi Mabk Ratih Sang dalam antologi ini tersusun dalam bahasa yang anggun, menyentuh, dan indah. Terasa sekali ajaran sufistik yang terkandung di dalamnya. Ajaran yang mengajak manusia berakhlak baik kepada Tuhan, alam, dan sesama. Saya bisa merasakan bahwa puisi-puisi ini ditulis dengan jiwa. (Habiburrahman El Shirazy, penulis)Membaca dan memahami puisi Ratih Sang seperti mengikuti arus sungai pedalaman bening di tengah bebatuan. Transparan dalam kata, apa adanya... tapi menyimpan arus dan gelora yang kuat dan deras menuju DiaNya. (Fatin Hamama)Mesti tanpa tunduk pada pakem perpuisian, puisi Mabk Ratih telah membuat mata ini sering berkaca-kaca. Kekuatan puisi-puisi Mabk Ratih terletak pada niat dan kejernihan nurani ketika menulis kata demi kata, menulis dan terus menulislah. (Jamil Azzaini, Master Trainer Kubik Leadership)Membaca puisi Mbak Ratih terasa nyata dalam makna, menyentuh, dan bahasanya mudah dimengerti. Selamat berkarya. (Slamet Widodo) Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |