|
Sinopsis Buku: Empat serdadu Belanda (dua orang Swiss, satu Belgia, dan satu lagi Indo beribu Nias), kabur dari benteng Kuala Kapuas. Mereka kecewa dengan pemerintah yang menggaji mereka lebih rendah dari jumlah yang dijanjikan sebelumnya. Keluar dari benteng berarti petualangan menembus rimba-raya Kalimantan yang sarat maut. Selama 70 hari mereka merambah belantara Kalimantan dari selatan ke utara, menyusuri sungai penuh riam, melintasi rawa-rawa penuh jebakan alam, mendaki bukit penuh batu, memanjat tebing curam, melawan buaya dan ular, sampai melawan para pengayau. ***M.T.H. Perelaer (1831 - 1901) ialah opsir Belanda yang pernah terlibat Perang Banjarmasin (1859). Pada 1860 ia menjadi pejabat sipil untuk kawasan Groote en Kleine Dajak, sekarang dikenal sebagai Kalimantan Tengah. Setelah Perang Aceh, Perelaer pensiun dari ketentaraan dengan pangkat mayor pada 1879. Ia meninggal di Den Haag pada 1901. Perelaer dikenal luas sebagai pengamat adat-istiadat Dayak. Pengetahuannya yang luas tentang Dayak telah dituangkan dalam buku Etnographisce Beschrijving der Dajaks (1870). Selain novel Desersi atau dalam bahasa aslinya Borneo van Zuid naar Noord, ia telah menulis novel Baboe Dalima. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |