|
Sinopsis Buku: BERKISAR, unggas elok hasil kawin silang antara ayam hitan dan ayam biasa sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi yang berayah bekas serdadu Jepang; kulitnya yang putih dan matanya yang khas membawa dirinya menjadi bekisar untuk hiasan sebuah gedung dan kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta. Lahir dalam keluarga petani gula kelapa sebuah desa di pedalaman, Lasi terbawa arus sejarah hidupnya sendiri dan berlabuh dalam kemewahan kota yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Lasi mencoba menikmati kemewahan itu dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, seorang suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika menemukan nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main. Longgar, dan di mata Lasi sangat ganjil. Dalam kegelapan itu Lasi bertemu dengan Kanjat, teman sepermainan yang sudah jadi lelaki matang. Lasi ingin Kanjat menolongnya seperti dulu ketika keduanya masih sama-sama bocah. Lasi ingin Kanjat membebaskan dirinya dari kurungan bekisar di rumah Pak Han. Tetapi Kanjat sibuk sendiri dengan kegiatan kemasyarakatan dalam upaya memperbaiki kehidupan para petani gula kelapa. Maka Lasi harus bisa memutuskan sendiri: tetap menjadi bekisar dalam kurungan kehidupan kota yang makmur tetapi ganjil atau terbang untuk membangun kembali dunianya sendiri yang sudah lantak. Pada titik ini Lasi merasa berdiri di simpang jalan yang sangat membingungkan. Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Laksmi Anindita Judul : Bekisar Merah Pengarang : Ahmad Tohari Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tebal : 312 halaman Tidak ada seorang pun yang menghargai keberadaan Lasi, wanita cantik hasil pernikahan ibunya dengan tentara Jepang. Sejak masih gadis, Lasi selalu diolok-olok oleh warga sekampung yang mengatakan bahwa ia adalah anak haram. Memang benar dulu ibunya pernah diperkosa oleh tentara Jepang, tetapi beliau tidak langsung hamil. Beliau hamil setelah tentara Jepang itu meminangnya tiga tahun kemudian. Jadi, sebenarnya Lasi memiliki ayah biologis yang sah. Tapi apa daya, Lasi tak pernah bisa mengubah pandangan miring orang-orang perihal keluarganya. Sampai di usianya yang hampir 20, Lasi pun tetap menyendiri. Teman-teman semasa sekolahnya dulu sudah menikah ketika mereka lulus di usia 14 tahun. Sebuah hal yang aneh mengingat penampilan Lasi yang jauh dari kata buruk rupa. Akhirnya, Lasi pun menikah dengan Darsa. Tapi naas, baru beberapa tahun usia pernikahannya, Darsa jatuh dari ketinggian pohon kelapa dan membuatnya tidak berfungsi. Awalnya Darsa patah semangat, tapi berkat usaha Bunek yang merupakan seorang tukang urut ulung, Darsa pun akhirnya pulih. Awalnya itu merupakan kabar bahagia di kehidupan Lasi, tetapi ternyata Bunek mempunyai akal licik yang membuat Lasi semakin tidak kuat menanggung beban kehidupannya di Karangsoga dan akhirnya memilih untuk minggat ke Jakarta bersama salah seorang kenalannya. Kehidupan di Jakarta yang serba berlimpah membuat penampilan Lasi berubah dan ia mendapatkan segalanya hanya dengan satu syarat, menikah dengan Pak Han. Kesadaran Lasi pulih, ternyata selama ini ia hanya jadi bekisar di kehidupan Pak Han. Hanya sebagai penghias rumah yang kelak bisa dipamerkan kepada khayalak banyak. Di tengah perjalanan hidupnya, ia bertemu dengan Kanjat yang seakan-akan memberinya dua pilihan yang cukup sulit untuk dipilih. Novel ini memang belum memberikan ending-nya karena masih ada serial lanjutannya di Belantik. Tetapi, aku sudah bisa menentukan bagian-bagian yang aku suka. Di sini menceritakan kepasrahan hidup keluarga penyadap di kampung Karangsoga. Semiskin apapun mereka, mereka tetap bisa mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan hari ini. Dan hebatnya, ketika mereka memiliki rejeki yang berlebih pun mereka tidak pernah lupa kepada Sang Empunya Hidup. Mereka tetap bersyukur. Jika ditelaah, biasanya orang-orang akan mendekat kepada Tuhannya ketika sedang butuh, tetapi jika sedang dibanjiri rejeki, mereka seakan-akan lupa bahwa itu rejeki dari Tuhan mereka. Dari beberapa tokoh yang ada, tokoh utama tetap menjadi prioritas resensi saya. Dengan segala kepolosan Lasi, akhirnya ia pun bisa dengan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Ya. Lasi memang tidak berprinsip kuat sehingga mudah terombang-ambing dan yang membuat saya gemas adalah bahwa sebenarnya Lasi tahu bahwa yang dilakukannya itu salah tetapi ia tetap saja melakukannya atas nama balas budi. Kebebasan hidup Bu Koneng dan Bu Lanting pun membuat saya risih. Jauh dari aturan dan norma. Menghalalkan segala cara demi mencapa kemakmuran dunia. Yaah. Hidup memang sudah berubah. Batas antara benar dan salah pun semakin samar. Semakin hari, semakin banyak orang yang bangga melakukan kesalahan dan malu untuk melakukan kebenaran. Dari novel ini saya berharap pada diriku sendiri semoga saya tidak menjadi seperti Bu Koneng, Bu Lanting, dan semua rekan-rekannya. Semoga saya masih diberikan kesadaran penuh oleh Gusti Allah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Salam resensator, Ninda ![]()
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |