|
Sinopsis Buku: Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk mendapatkan kembali tempatnya di masyarakat setelah 12 tahun tinggal dalam pengasingan di Pulau B. Apalagi hati masyarakat memang pernah dilukai. Karman, lelaki itu, juga telah kehilangan orang-orang yang dulu selalu hadir dalam jiwanya. Istrinya telah menikah dengan lelaki lain, anaknya ada yang meninggal, dan yang tersisa tak lagi begitu mengenalnya. Karman memikul dosa sejarah yang amat bera dan dia hampir tak sanggup menanggungnnya. Namun di tengah kehidupan yang hampir tertutup baginya, Karman masih bisa menemukan seberkas sinar kasih sayang. Dia dipercayai oleh Pak Haji, orang terkemuka di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan, untuk membangun kubah mesjid di desa itu. Karman merasakan menemukan dirinya kembali, menemukan martabat hidupnya. Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Rimbun Natamarga Begini ceritanya. Seorang laki-laki yang bernama Karman baru pulang dari Pulau B. Pulau itu dikenal sebagai pulau pengasingan bagi tahanan-tahanan politik (tapol). Pulang yang seharusnya menjadi ajang untuk bertemu kembali dengan orang-orang terkasih justru memberi pertanyaan sekaligus keraguan di benaknya. Akankah ia diterima kembali oleh mereka? Adakah dosa-dosanya di masyarakat masih tercatat dan bakal diingat oleh mereka? Karman tidak tahu. Semuanya serba mungkin. Dan hampir sepanjang buku ini bercerita tentang dosa-dosa itu. Jawaban dari pertanyaan �Apakah masyarakat menerima kembali Karman?� justru nyaris tidak disinggung kecuali sedikit di halaman 179. Padahal pertanyaan inilah yang seakan-akan dijadikan pokok cerita dalam buku ini�oleh penerbit pada keterangan sampul belakang. Terbayang pada mulanya bahwa Kubah akan berisi banyak segi tentang pergulatan seseorang mantan tapol agar diterima masyarakatnya kembali. Kubah sebagai judul buku sendiri malah tak disinggung-singgung kecuali pada �Bagian Penutup� (hal. 187-189). Apakah judul buku ini adalah pengibaratan penulis atas usaha untuk kembali seorang mantan tapol kepada Tuhannya? Entahlah. Yang jelas, kata �kubah� sebagai judul buku diartikan sebagai kubah pada masjid sebagaimana yang sudah kita ketahui secara umum. Masjid yang memiliki kubah itu adalah masjid punya Haji Bakir. Yang disebut terakhir ini adalah orang yang pernah membantu kehidupan Karman sewaktu kecil dan sekaligus orang yang sempat membiayainya untuk menamatkan sekolah. Ayah Karman adalah seorang mantri yang hilang tak berkubur pada masa revolusi fisik di Indonesia. Kehilangan itu membuat Karman sekeluarga menjalani hidup susah hingga Haji Bakir mengulurkan bantuannya. Pada dasarnya, Karman seorang laki-laki yang baik hati. Ia mudah menolong orang lain dan ia pun cekatan. Semua orang mengakuinya. Kekurangan Karman adalah terlalu perasa, gampang terpengaruh lagi sewaktu-waktu bisa marah (hal. 102). Sifat-sifat inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang komunis untuk menariknya. Saat itu, karena salah satu latar belakang cerita Kubah sekitar tahun-tahun 1950-an sampai menjelang tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang meniti jalan menuju puncak kekuasaan politik di Indonesia. Kekurangan Karman jugalah yang membuatnya memusuhi Haji Bakir. Dengan alasan-alasan ideologis, sikap itu dinilainya benar; selain sebagai orang yang taat beragama, Haji Bakir juga dikenal kaya dan memiliki tanah berhektar-hektar (tuan tanah). Karman menganggap Haji Bakir sebagai salah satu �setan desa� yang mesti disingkirkan. Dalam keadaan seperti itu, gaya cerita penulis menemukan efeknya. Sebab, meski sepintas terkesan datar, banyak dalam beberapa tempat dalam cerita penulis memberikan kejutan-kejutan. Akibatnya, pembaca dapat mudah dibuat terharu. Bagian yang paling banyak memberikan efek itu adalah pada bagian yang bercerita tentang Rifah dan Marni. Rifah adalah anak perempuan Haji Bakir. Karena orangtuanya termasuk orang kaya di desa, Rifah terbiasa hidup serba berkecukupan. Yang dimintanya mestilah dituruti. Dengan Karman yang bekerja pada ayahnya, Rifah terbilang dekat. Sering permintaannya dituruti Karman. Meski tak terlalu cantik, Rifah ketika dewasa menarik hati Karman. Berbeda dengan Rifah, Marni adalah istri Karman yang dinikahinya setelah dua kali lamaran Karman untuk menikahi Rifah ditolak oleh Haji Bakir. Marni adalah wanita taat. Kepada suaminya ia tak pernah melawan dan kepada Tuhannya ia menunaikan segala kewajibannya, meski Marni tahu: Karman seorang ateis. Sebagai seorang ateis pada tahun-tahun menjelang 1965 itu, nasibnya hampir kita tahu pasti akan berakhir tragis. Kalau tidak di ujung senjata pihak-pihak yang sakit hati, tentu akan dikirim ke Pulau Nusa Kambangan dan Pulau Buru. Kisah kelam orang-orang buangan itu kita pun tahu lewat Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer) dan Memoar Pulau Buru (Hersri Setiawan). Sebagai mantan tapol di kedua pulau itu, yang kerap menjadi permasalahan tentulah ketika kembali ke masyarakat. Permasalahan seperti itu sebenarnya juga ada pada keluarga yang ditinggalkan, meski dalam bentuk lain. Umumnya, keluarga para tapol itu dikucilkan dari masyarakat. Dalam Kubah, hal ini menimpa Tini, anak perempuan Karman. Meski tidak secara terang-terangan dikucilkan, namun kesadaran diri bahwa ayahnya adalah seorang tapol membuat Tini rendah diri di tengah teman-temannya (hal. 38). Menariknya, Tini justru menaruh hati pada Jabir, anak laki-laki Rifah dan cucu Haji Bakir. Seperti dibuat-buat, kenyataan-kenyataan tersebut dijalin penulis agar meninggalkan kesadaran nyata di benak pembaca tentang jahatnya paham komunisme. Dalam setiap makna yang dapat diambil oleh masing-masing pembaca, manusia-manusia yang diangkat penulis adalah manusia-manusia yang berada dalam proses mencari dan terus mencari. Ada nilai yang hilang. Ada nilai yang selalu dicari. Nilai-nilai yang dicari seperti ini dapat kita temukan dalam karya-karya penulis yang lainnya. Ronggeng Dukuh Paruk (Gramedia, 2003), salah satunya. Sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk itu, Kubah juga merupakan sebuah dokumen kolektif tentang tragedi berdarah 1965. Bagi yang mengenal penulis lewat karya terkenalnya itu, buku ini�yang terbit pertama kali pada tahun 1980�pernah mendapatkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama pada tahun 1981. Keduanya melukiskan suasana pada waktu agitasi dan propaganda dan rapat-rapat kader serta aksi sepihak yang dijalankan orang-orang PKI selain tak lupa juga untuk melukiskan tentang pembantaian anggota dan simpatisan PKI berikut orang-orang yang dicurigai oleh militer dan penduduk setempat. Tak mudah untuk mengabaikannya begitu saja, apalagi buku ini pernah menjadi salah satu karya terkenal penulis�selain Di Kaki Bukit Cibalak (1979?)�yang terbit sebelum Ronggeng Dukuh Paruk. ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: arif majiid Kelebihan : Buku ini sangat bagus dalam mengupas kehidupan rakyat di zaman Orde lama dan konflik partai PKI di tanah air ini. Dengan alur campuran, buku ini mengisahkan pengalaman dan kehidupan tokoh utama di masalalu. Nilai moral dan kemanusiaan sangat di gambarkan secara bagus dan jelas. Tokoh-tokoh yang memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga mampu mewarnai jalan cerita secara hidup. Konflik-konflik yang dihadirkan ada juga merupakan konflik kompleks yang permasalahannya bukan masalah yang gampang. Nilai-nilai keagamaan juga dijunjung dalam Novel ini. Kekuranagn : Teralu banyak flash back, sehingga untuk orang yang baru belajar akan kesusahan untuk mengerti Rangkuman Sewaktu kecil, hidup Karman sangat sederhana setelah ditinggal ayahnya untuk selamanya. Hidupnya serba susah. Sampai-sampai ia hanya bisa menamatkan sekolah SMP, itupun atas bantuan dari Hasyim�pamannya. Semasa kecilnya ia sudah diajarkan bekerja keras. Untuk makan sehari-harinya ia harus bekerja membantu setiap pemanen yang hendak memanen sawahnya. Ia juga bekerja pada Haji Bakir, ia disuruh menjaga dan menemani Rifah�anak bungsu Haji Bakir�bermain. Ketika dewasa ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan sangat berpotensi dalam bidang politik. Meskipun demikian, ia memiliki sifat mudah terpengaruh oleh orang lain. Hal tersebut menjadikannya terjerumus kejalan yang salah. Ia menjadi salah satu anggota PKI. Setelah kejadian G30S/PKI, dimana para anggota PKI menculik dan membunuh perwira-perwira tinggi negara, Indonesia mengadakan pembersihan paham komunis. Siapapun yang bergabung dan berhubungan dengan PKI ditangkap dan dijebloskan ke penjara, termasuk Karman. Di dalam penjara tersebut Karman benar-benar mengakui kalau selama ini dia telah masuk ke dalam faham yang salah. Ia mulai mengerti bahwa ajaran PKI itu salah. Setelah keluar dari penjara, ia tidak lagi hidup bersama istrinya. Karena istrinya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, Marni�mantan istri Karman�akhirnya kembali kepelukan Karman. Mereka menjalani hidup normal. Hingga pada suatu ketika, Karman melihat masjid milik Haji Bakir telah usang dan terlihat sangat tua. Ia ingat dengan pendidikan keterampilan bertukang saat dia berada dipenjara. Ia lalu menemui Haji Bakir, dan menawarkan diri untuk membangun kubah asalkan materialnya disediakan, dan Haji Bakir menyetujuinya. Dan akhirnya proses pembuatan kubah dan perbaikan masjid itu selesai. Karman beserta yang lainnya sangat puas sekali. Setelah itu, Karman menjadi sangat dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya ia menadi rajin beribadah.. ![]()
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |