|
Sinopsis Buku: "Pemain sepak bola kalau ingin menendang keras, pasti ancang-ancang ke belakang. Semakin dia ancang-ancang ke belakang maka tendangannya akan semakin kuat. Begitu juga kita hidup, semakin kita menoleh ke belakang, ke leluhur-leluhur kita, pandangan kita akan semakin luas. Kalau ingin menjadi orang besar, maka dia harus semakin ada ikatan kuat dengan leluhur." - Alm. Prof. Dr. Achmad Baiquni, MSc., Ph. D, fisikawan atom UGM, keturunan Kiai Abdul Jalal I *** Watu Soye yang berada di tengah Kali Cemoro menjadi saksi bagaimana Bagus Turmudi Kiai Abdul Jalal Awwal memegang teguh prinsip asta brata sebagai seorang pemimpin Jawa. Mewujudkan prinsip matahari yang memberi penerangan, sebagai seorang Muslim, ia berhasil meninggalkan kemewahaan dunia untuk membuka daerah baru guna mengembangkan dakwah Islam. Di atas Watu Soye, ia bermunajat sehingga menemukan sejatining urip bahwa manusia itu kerdil di atas keluasan kekuasaan Gusti Allah. Alas Jogopaten yang akan dibersihkannya telah pula dikerdilkan Gusti Allah, sehingga seluruh makhluk gaib yang ada tak mengganggunya. Langkah selanjutnya setelah berhasil menaklukkan alas Jogopaten adalah membangun sebuah surau dan tempat mengaji, sehingga semakin mengukuhkan prinsip bulan, menjadi penerangan siapa pun tanpa menyilaukan mata. Dusun ini kemudian dijadikan tanah perdikan oleh Sunan PB IV dengan nama Kaliyoso. Dari sini Islam meluas sebagai rahmatan lil alamin. Kiprah pendiri Kaliyoso dan prinsip astra brata ini tidak saja menjadi anutan bagi anak keturunannya sampai ke Joko Widodo dari garis Kiai Yahya tapi juga masyarakat sekitar tanah perdikan Kaliyoso dan terus menyebar ke sekelilingnya. Dalam novel inilah berkelindan tidak saja semangat perjuangan Kiai Abdul Jalal I tapi bagaimana rasa cinta dan asmara menyatu. Langkah yang kemudian dijadikan patron generasi selanjutnya trah Kaliyoso, termasuk Joko Widodo salah satu di antaranya. Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |