|
Sinopsis Buku: "Apakah ini artinya Emma kalah, Jusuf?" Pertanyaan Emma menusuk batinku. Aku pilu. Mata bening Emma basah. Angin sore mendadak terasa sangat dingin. Cahaya matahari dari barat jatuh di wajah Emma. Dukanya semakin terlihat. Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu. Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu. Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu. Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri. Emma adalah perjalanan keberanian. Ada sosok yang kokoh dalam dirinya yang lembut dan sangat halus. Jika kau ingin aku berkata-kata tentang keindahan, kepadanya benakku akan bertumpu. Maka, kini, aku akan bercerita tentang, dia, ibuku. Emma-ku. Athirah. Perempuan indah yang mengajarkan aku tentang hidup …. Sesuatu yang tak perlu kau takutkan jika kau tahu makna kesabaran …. *** Kisah tentang ibu selalu menarik dan menyentuh. Di balik sosok orang-orang hebat, ada seorang ibu yang memberi nilai-nilai kehidupan dan prinsip-prinsip yang mewarnai sosok orang tersebut. Karena itu menarik untuk menyimak kisah tentang Athirah, sosok perempuan dan ibu yang memberi warna dalam kehidupan dan keberhasilan Jusuf Kalla. Banyak nilai kehidupan yang sangat berguna untuk dipelajari. - Andy F. Noya, pembawa acara Kick Andy Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Nanik Athirah merupakan judul novel yang ditulis oleh Alberthiene Endah, yang terinspirasi dari kisah Jusuf Kalla dan Emma. Adalah Athirah, gadis cantik dari Bone yang hidup berbahagia dengan suami yang sangat dicintainya, Haji Kalla, seorang pemuda pedagang yang sukses. Mereka meninggalkan Bone dan pindah ke Makassar untuk memulai usaha dagang yang lebih besar. Perdagangan yang sukses, anak-anak yang sehat, rumah yang selalu penuh keceriaan. Lengkap sudah kebahagiaan Athirah. Namun semua berubah, saat Haji Kalla memutuskan untuk menikah lagi. Keputusan yang tak pernah didiskusikan dahulu dengan Athirah. Membuat hati Athirah remuk redam. Semangat hidupnya sempat menghilang. Namun Athirah hanya pasrah, tak pernah berani mempertanyakan apa alasan suaminya menikah lagi. Demikian pula dengan Jusuf, sebagai anak lelaki tertua, yang merasa terpukul dengan pernikahan kedua ayahnya, ingin mempertanyakan apa alasannya, namun tak pernah berani mengucapkannya. Mulailah babak baru dalam rumah Jusuf. Ayahnya memutuskan untuk tinggal di rumah istri keduanya. Ayahnya berjanji dia akan berada di rumah Jusuf dua kali dalam sehari. Pagi setelah sholat subuh, dia akan sarapan di rumah itu. Waktu kedua adalah sore menjelang magrib. Kedua waktu itulah waktu yang paling ditunggu oleh Athirah. Pagi dan sore hari dia bersemangat menyiapkan hidangan untuk suaminya. Namun tatapan matanya kembali hampa kala sang suami melangkahkan kaki keluar rumahnya, tubuhnya kembali lesu. Dia hanya mampu menatap kepergian suaminya dari jendela. Jusuf menyaksikan bagaimana emma berjuang untuk menyembuhkan luka hatinya. Dia melihat bagaimana emma jatuh bangun dengan perasaannya. Dari situ dia belajar keikhlasan, dari situ dia belajar arti kesetiaan. Pada akhirnya Athirah mampu bangkit, dia tak lagi meratapi dan mempertanyakan kenapa suaminya menikah lagi. Dia ikhlas menerima itu, dia pun meminta pada Jusuf untuk ikhlas juga. Dia meminta pada Jusuf untuk menjaga adik-adiknya, menjaga dirinya. Dan Jusuf pun berjanji, dia tak akan pernah meninggalkan Makassar, dia akan selalu ada disisi Athirah. Dalam novel ini juga diceritakan bagaimana pertemuan Jusuf dengan Mufidah, bagaimana pengejaran Jusuf untuk mendapatkan perhatian dan cinta Mufidah. Bagaimana dia bersabar, walau mufidah selalu berusaha menghindar dan cuek saja jika kebetulan bertemu. Jusuf tetap sabar menunggu jawaban mufidah. Jusuf juga berusaha untuk memaklumi ketakutan Mufidah yang sudah mengetahui latar belakang keluarganya. Ketakutan bahwa Jusuf akan meniru ayahnya, melakukan poligami. Kesetiaan Athirah akhirnya memang mampu memenangkan hati Haji Kalla kembali. Haji Kalla mulai lebih sering berkunjung ke rumahnya. Tak terbatas setelah subuh dan menjelang maghrib saja. Bahkan setelah Athirah meninggal, Haji Kalla seperti tak bersemangat lagi menjalani kehidupannya. Dia sering terlihat murung dan tatapannya hampa. Sekitar tiga bulan setelah Athirah meninggal, Haji Kalla pun menyusulnya ke alam baka. Jusuf tak pernah menginjakkan kaki dirumah istri kedua ayahnya, walau jaraknya hanya sekitar satu km. Pertama kali Jusuf kesana adalah saat memperoleh kabar bahwa ayahnya meninggal. Jusuf tentu ingin mengurus jenazah ayahnya, namun dia sadar bahwa keluarga kedua ayahnya tentu juga ingin mengurus jenazah ayahnya. Bisa terjadi keributan jika kedua keluarga itu masing-masing memaksakan kehendaknya. Maka Jusuf mengambil keputusan bahwa pengurusan jenazah dilakukan di rumah istri kedua ayahnya, selanjutnya jenazah akan disemayamkan di masjid di samping rumah Jusuf. Jusuf pun memenuhi janjinya pada Athirah, untuk menjaga Mufidah, untuk tak melakukan poligami. Untuk setia hanya pada satu keluarga. ![]()
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |