|
Sinopsis Buku: Aku pernah mendapati kepedihan tiada tara, ketika kakak semata wayangku, Rehana terdiagnosa pen/akit kronis yang belum ada obatnya.Aku kian sedih menyaksikan perjuangannya yang teramat berat.Aktifitasnya lumpuh sebagaimana kelumpuhan permanen pada kakinya, kemudian ia harus cuci darah. Penyakit itu telah merenggut masa depan kakakku.Hingga membawanya pergi jauh,menutup mata untuk selama-lamanya. Lantas, sudah cukupkah penderitaanku? Rupanya diam-diam penyakit yang sama tanpa kusadari telah pula bersarang pada tubuhku.Padahal aku di penghujung kelanaku,akan mengikuti ujian masa SMA. Aku nyaris putus asa, bahkan kebahagiaan cinta yang kutemukan pada seorang penulis puisi porak poranda karena sakitku. Menyerah kah aku ?Tak akan pernah. Di tengah kesulitan pasti ada jalan. Akan ada pelangi setelah hujan. Aku Percaya, jika kita mengantongi satu kata, kita akan mampu menaklukkannya. Kata itu adalah: Never give up! "Betapa hebatnya kasihTuhan, melahirkan cinta suci dari kedalaman nurani. Manakala kesakitan tak lagi terasa menusuk, pada jiwa-jiwa yang tenang dan tegar. Ya.. jiwa-jiwa yang rasanya selalu bersuara, "sabarlah kau di takdirNya", ah., sepertinya, berjuta sakit menusuk tubuh,tak ada artinya,tak lantas membuat diri diam menyerah. Kama kasihMu, menguatkan, karna cintaMu adalah jembatan dari perjalanan." - (Ry Cahyo- Relawan Odapus sekaligus Penulis Puisi pada Novel "Never Give Up") Membaca novel Sdri Inni, renyah tanpa beban, ceritanya mengalir bersahaja indah.Tema yang dibangun cukup menarik. Lalu romantika disampaikan dengan lincah. Kita ikut di dalamnya, terbuai dan hanyut. Setiap lembar akan kita buka, lanjutkan, baca, dan baca lagi. Halaman buku tak ingin ditutup, terlalu sayang untuk ditinggal. Dan itulah kepiawaian Inni, mendekatkan karyanya dengan pembaca. Selamat buat Inni dan karyanya yang bersahaja. - (Androecia Darwis- Sastrawan sekaligus Pimpinan Bank Indonesia) Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |