|
Sinopsis Buku: "Ya, saya tahu bahwa nggak mungkin Bapak/Ibu KPK main tangkap. Apalagi kita tahulah itu yang namanya para politisi, mau yang duduk di parlemen atau partai, masya Allah mulutnya! Nggak usah marah dong, hei poliTIKUS! Masuk akal dimana, Anda yang pinter tapi brengsek itu kok bisa-bisanya dengan mulut penuh buih bersampah pengen mengikis kewenangan KPK?! Atas nama HAM-lah, HAM korupsi po piye, Su?!..." *** Itulah penggalan kemurkaan dan kemuakan rakyat negeri ini pada para koruptor. “Kejahatan yang luar biasa, harus diatasi dengan penanganan luar biasa pula,” begitulah kredo umum yang kita tahu. Dan, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menjadi tulang punggung penebar asa bagi seluruh rakyat negeri ini, bahwa korupsi bisa kita lawan, bahwa negeri ini masih bisa diselamatkan, bahwa semua uang negara bisa digunakan dengan tepat untuk pembangunan bangsa. Tapi, KPK terus diserang! Dengan senjata hukum, politik, hingga kiriminalisasi. Kita tahulah para perongrong KPK itu dari kubu mana: “mereka yang haus kekuasaan dan kekayaan yang merasa terancam.” Tapi, KPK tidak sendirian. Di belakangnya, jutaan rakyat negeri ini mendukung. Sepenuh hati. Sebab memang hanya KPK-lah yang kini menjadi tumpuan masa depan negeri ini untuk membasmi korupsi. Buku ini memuat 18 surat cinta yang ditulis oleh beragam latar belakang rakyat, dari mahasiswa, praktisi, pengajar, pekerja swasta, ibu rumah tangga, sastrawan, dan sebagainya. Semuanya dikemas dalam bentuk surat, curhat, dan asa kepada KPK. Semuanya mewakili sepenuhnya keinginan besar rakyat negeri ini akan peran KPK menggayang para koruptor, tanpa takut dan pandang bulu. Maju terus KPK, tangkap para koruptor, sita harta hasil korupsi mereka, kami selalu bersamamu… God bless us… Sisa Asa yang Masih Ada Resensi Buku:
Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |