|
Sinopsis Buku: Manusia mencari Tuhan karena desakan aspek rohani dalam dirinya. Pencarian ini tak lain adalah untuk mengakhiri kegelisahan jiwa dan menemukan konsep ketuhanan yang menenteramkan. Di sinilah peran utama agama-agama. Hanya saja, pluralitas agama menuntut kita untuk menyikapinya secara arif dan dewasa, sebab klaim kebenaran dari tiap-tiap agama dapat menjadi penebar petaka. Di sisi lain, kebutuhan kita akan keyakinan mendalam tentang Tuhan menuntut kita untuk menentukan sikap pribadi terhadap agama-agama. Sejumlah kalangan menyikapi kemajemukan agama dengan membenarkan dan menganggap sama semua agama. Namun, sebagian besar kita, termasuk buku ini, meyakini bahwa hanya ada satu agama yang benar dan autentik. Setelah menekankan pentingnya kehendak bebas dan kemampuan-memilih manusia, buku ini mengajak kita mencari salah satu agama untuk dimenangkan �di bilik keyakinan kita�. Menurut buku ini, hasil akhir dari pencarian itu bisa jadi hanyalah mengubah iman dogmatis menjadi iman argumentatif. Namun, pencarian itu bisa juga mengubah pelakunya menjadi seorang mualaf. Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencari agama yang benar, dan membandingkan konsep ketuhanan merupakan salah satunya. Buku ini berfokus pada konsep tauhid dan trinitas. Nilai lebihnya tak hanya terletak pada ulasan tentang kritik-kritik mutakhir atas konsep tauhid dan trinitas, tetapi juga pada uraian pengalaman sang penulis dalam mencari agama yang benar Resensi Buku:
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() oleh: Nisya Tri Yolanda Islam adalah wadah dari berbagai macam konsep, yang apabila diketahui dan diresapkan ke dalam hati, pasti akan mewujudkan praktik kehidupan yang luar biasa indah. Ironisnya, tidak seluruh kaum muslim sampai pada kapasitas seperti ini, apalagi mereka yang belum berhasil menjemput hidayah Allah untuk memeluk Islam. Oleh karena itu, penulis buku ini terdorong untuk mendalami perbandingan agama, mendedikasikan segala pengalaman dan pengetahuannya demi apa yang disebutnya �Islamisasi�, yaitu mencerdaskan kaum muslimin dan mengislamkan nonmuslim. Penulis yang juga seorang Pialang Saham ini lahir pada tahun 1972 di kota Malang, Jawa Timur dengan nama Purwanto Labatara. Mulanya, ia adalah seorang Katolik yang dibaptis dan menyandang nama Bernadus Purwanto Labatara. Namun, pada tahun 1989, setelah melalui proses berliku, ia akhirnya menjadi seorang muslim dan menyandang nama baru: Purwanto Abd. Al-ghaffar. Ia mendapatkan pengetahuan keagamaan secara otodidak melalui buku-buku, forum-forum pengajian, dialog antarpemeluk agama, dan sebagainya. Gagasan dalam buku ini menunjukkan konsep tauhid yang mengagumkan, sehingga kaum muslim dapat meningkatkan rasa hormatnya terhadap Islam itu sendiri. Buku ini juga menyajikan konsep-konsep lain dari berbagai agama dan kepercayaan, khususnya sikap kritis terhadap konsep trinitas kaum Kristiani (Monoteis Trinitarian) yaitu konsep ketuhanan yang menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dan Tritunggal. Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama (motivasi) menguarikan segala macam fenomena yang dijumpai manusia dalam kehidupan realis mereka, yaitu kebebasan beragama atau tidak memeluk agama, kebebasan memilih agama, pluralitas dan toleransi beragama, serta pembahasan hangat mengenai alat untuk mencari agama yang benar. Sebagian besar orang memeluk agama karena warisan orang tua, sebagian lainnya beragama karena pengaruh lingkungan di luar rumah. Selain itu, berbeda dengan kalangan yang memliki kemampuan berpikir dan kecerdasan yang tinggi, motivasi memeluk agama lebih kompleks dan argumentatif. Mungkin, tadinya mereka juga ahli waris agama orang tua mereka. Namun, mereka mengkaji kembali agama yang mereka peluk berdasarkan motif yang sangat sederhana. Kajian agama yang mereka lakukan dapat menghasilkan kekecewaan tertentu, mendadak semuanya berubah menjadi alasan untuk melepas agama lamanya dan memeluk agama baru. Di sisi lain, latar belakang seseorang untuk tidak beragama, selain karena berasal dari keluarga tak beragama atau dipengaruhi oleh lingkungan tak beragama, ketidakberagamaan seseorang bisa disebabkan oleh kekecewaan terhadap semua agama yang ada. Mereka percaya terhadap adanya Tuhan tetapi kehilangan kepercayaan terhadap institusi agama, sehingga mereka menolak untuk memeluk agama apa pun. Golongan ini dilabeli dengan sebutan yang bermacam-macam, yakni deisme, faith without religion, atau New Age, yang diterjemahkan menjadi �keyakinan tanpa agama� atau �bertuhan tanpa agama�. Beberapa pakar mengatakan bahwa orang-orang seperti ini selalu ada dan mungkin bisa bertambah jumlahnya di masa depan. Kebebasan beragama adalah kebebasan yang harus ada dan mesti dijaga. Tidak boleh ada apa pun dan siapa pun yang menghalangi seseorang untuk memeluk agama tertentu. Begitu juga, tidak boleh ada apa pun atau siapa pun yang boleh memaksa seseorang untuk memeluk agama tertentu. mencari agama yang benar adalah aktivitas yang harus dilindungi. Dalam Islam, terdapat ayat yang sangat popular yaitu Q.S. al-Baqarah [2]: 256, dalam kitab agama Budha juga terdapat isyarat serupa dalam �Magna Carta�, begitu pula dalam ajaran Kristen: Mat 7:15-20, sumber-sumber tersebut berbicara tentang kebebasan beragama. Boleh jadi, semua agama di dunia ini mengklaim dengan caranya masing-masing bahwa hanya agama merekalah yang benar. Namun, mereka juga harus mengakui bahwa merupakan hak bagi seluruh manusia yang �kebetulan� memeluk suatu agama, entah karena warisan orangtua maupun motivasi-motivasi nonargumentatif lainnya, untuk tampil sebagai �pencari agama yang benar�. Pluralitas adalah istilah yang ketika diucapkan, mengandung ajakan kepada para penganut agama untuk hidup bersanding dengan baik, bersanding, bukan bertanding. Siapapun yang membahas tentang pluralitas agama ini pasti menyebutkan kata kuncinya, yaitu toleransi, suatu sikap non-diskriminatif terhadap penganut agama atau keyakinan lain yang berbeda dengan yang dianutnya. Mencari agama yang benar adalah sikap ideal dalam menyikapi pluralitas agama. Dalam mencari pengetahuan dan kebenaran, manusia mengambil informasi melalui persepsi indrawi. Kumpulan data itu dikirim melalui jaringan saraf menuju milyaran neuron yang terkumpul di otak kita. Alat pikir manusia ini mengolahnya, mengukur, membandingkan, menimbang, mengklasifikasikan, dan sebagainya. Kegiatan analisis yang rumit inilah yang menghasilkan suatu pengetahuan tertentu. Ada banyak hal yang dapat dideteksi indra manusia. Tetapi, ada lebih banyak lagi sesuatu yang tidak dapat dideteksi oleh indra namun keberadaannya terasa di hati dan mempengaruhi kehidupan kita. Semua itu hanya bisa dirasakan oleh batin dan dipastikan oleh akal kita. Dengan demikian, indra, akal, dan batin, semuanya berkolaborasi dalam menghasilkan pengetahuan dan memastikan kebenaran. Sedangkan yang menjadi sumber pengetahuan itu adalah alam semesta, dan sesuatu yang dari masa ke masa semakin disadari sebagai elemen yang tidak mungkin diabaikan, sesuatu yang bersumber dari aspek supranatural, dari Tuhan, yaitu wahyu. Bagian kedua (aksi) dalam buku ini menjelaskan pengertian teologi, teologi dalam Islam, teologi dalam Kristen, serta konsep ketuhan Islam dan Kristen. Dalam arti luas, teologi adalah segala pembahasan yang berkaitan dengan agama. Dalam artian sempit, teologi adalah pengetahuan tentang Tuhan atau konsep ketuhanan. Istilah teologi berakar dari sejarah agama Kristen, namun sesuai dengan perkembangan zaman, istilah yang kini bersifat fleksibel itu dapat pula digunakan secara universal oleh para pemikir Islam beserta agama dan kepercayaan lain dalam mendeskripsikan agamanya masing-masing. Istilah teologi dalam lingkungan Kristiani lebih sering digunakan dan dimengerti dalam artian umum, yaitu �ilmu tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan agama Kristen�. Sedangkan pada agama Islam, teologi adalah sinonim dari Ilmu Kalam. Tujuan ilmu kalam adalah mempertahankan dan membela akidah Islam dengan cara menolak segala paham yang keliru serta bidah yang menyimpang. Konsep ketuhanan dalam agama Islam dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yang pertama yaitu konsep ketuhanan yang diambil dari Alquran dan hadis secara harfiah serta minim spekulasi manusia, sehingga mayoritas ulama di bidang akidah secara bersama menyepakatinya. Kedua, konsep ketuhana yang sarat dengan spekulasi manusia, yang merupakan akibat dari tabiat manusia yang memang sangat ingin tahu, ada beberapa ahli yang memaksakan rasio, dan dengan menggunakan beberapa pendekatan mencoba menguak lebih dalam lagi hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Dalam Islam, wahyu adalah firman Allah yang turun dan menjadi huruf-huruf dalam kitab suci, yaitu Alquran. Tetapi, bagi agama Kristen, wahyu dari Tuhan itu terbagi ke dalam dua bentuk, bentuk pertama adalah �yang tertulis� yaitu Kitab Suci, dan bentuk kedua � yang lebih tinggi derajatnya � adalah �diri Yesus�. Dalam Kristen, Yesus adalah firman Allah yang menjadi manusia. Jika dalam Islam Alquran memiliki kebenaran Ilahiah yang mutlak, maka dalam Kristen kebenaran mutlak yang Ilahiah itu ada pada diri Yesus, yakni ucapan dan perbuatannya (sabda dan karyanya). Bagi Kristen, hubungan Tuhan dengan Yesus sangatlah khusus dan menjadi permasalahan yang pelik dalam teologinya. Konsep ketuhanan dalam Kristen sangat rumit dan menjadi pokok bahasan yang �berat�. Trinitas adalah masalah yang merujuk kepada salah satu hakikat terpenting dari Tuhan, sedemikian fundamental hakikat terseebut bagi Kristen sampai-sampai konsep ketuhanan dalam Kristen diberi nama �Monoteisme Trinitarian�, yaitu kepercayaan bahwa Tuhan itu Esa dan Tritunggal. Dalam tataran praktis, istilah Monoteisme Trinitarian jarang sekali digunakan oleh khalayak umum, baik kaum Kristiani sendiri maupun nonkristiani. Justru, kata trinitas dan trirunggal-lah yang populer digunakan. Dalam kekristenan, Tuhan dikenal dengan nama utamanya, �Allah�. Selain itu, ada beberapa nama lain. Pada Perjanjian Lama, terdapat nama �El�, �Yahwe�, dan pada Perjanjian Baru didapati nama �Theos�, �Kurios�, dan �Peter�; nama-nama tersebut � terutama adalah untuk menunjuk Tuhan. Ada hal penting yang mesti dicamkan dalam konteks nama-nama Tuhan ini, yaitu seperti yang tertulis dalam Kel. 20: 7: �Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang salah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan�. Jadi, dalam menyebut nama Tuhan, harus ada penghormatan yang besar. Hal serupa juga ditekankan dalam Islam: Q.S. al-A�raf [7]: 180: �Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan�. Bagian ketiga (reaksi) dalam buku ini memaparkan kritik dari internal Kristen terhadap trinitas, faktor yang memunculkan paham trinitas, kritik terhadap tauhid, dan ayat-ayat Alquran tentang trinitas. Konsep trinitas adalah �Satu Allah dalam tiga pribadi�. Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus tidak mempunyai permulaan. Masing-masing juga dikatakan mahakuasa dan tidak lebih besar dan lebih kecil daripada yang lainnya. Pernyataan ini sangat membingungkan orang-orang dari �Saksi Jehova� (aliran Kristen yang �dianggap sekte sesat� oleh Katolik maupun Protestan), mereka mengatakan: �Itu sangat membingungkan, bertentangan dengan akal sehat. Bagaimana mungkin sang Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, namun tidak boleh dikatakan bahwa ada tiga Tuhan melainkan hanya ada satu Tuhan?� Perjanjian lama memang tidak membicarakan trinitas, perjanjian baru pun tidak membicarakan trinitas secara tegas. Ditandaskan lagi bahwa �kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga pribadi.� Dan: �Pribadi-pribadi Ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi tiap-tiap dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya�. Tetapi, kalau masing-masing mempunyai perbedaan yang riil satu dari yang lain dan masing-masing dengan sepenuhnya harus disebut Allah, bagaimana dapat dihindari kesan bahwa ada tiga Allah? Bahasa seperti itu tidak saja sulit dimengerti, tapi juga dapat lebih berbahaya lagi, yakni mudah disalahpahami. Di sisi lain, banyak dari umat Kristiani yang tidak mengerti maknanya sehingga pengucapan rumus-rumus trinitas tersebut menjadi sekedar formalitas, bahkan telah terbukti sangat potensial menyesatkan kaum kristiani menjadi seorang triteis (menganggap Tuhan itu ada tiga), atau dualis (menganggap Tuhan ada dua), yang menghilangkan kemonoteisan agama ini. Ketika membandingkan konsep tauhid dengan trinitas atau tritunggal, yang pertama kali muncul dalam benak adalah keheranan yang sangat besar. Terdapat anggapan miring oleh sebagian besar teolog Kristen terhadap konsep ketuhanan Islam bahwa konsep tauhid tidak menyarmpaikan hakikat Tuhan dengan benar, dan bahwa kesederhanaan atau, lebih tepatnya, kedangkalan konsep tauhid itu sangat potensial untuk disalahpahami. Bagi teolog Kristen, konsep trinitas bukan saja sebagai �puncak pemahaman tentang tuhan�, melainkan juga konsep yang melengkapi dan menyempurnakan tauhid. Pada kenyataannya, Alquran membagi pengetahuan tentang Tuhan ke dalam tiga tingkatan: (1) hal-hal yang tentang-Nya yang dapat dengan mudah dipahami; (2) hal-hal tentang-Nya yang sulit dipahami; dan peringkat tertinggi (3) hal-hal tentang Tuhan yang tidak mungkin dapat dipahami manusia. Secara bertahap, Alquran menguraikan informasi tentang Tuhan mulai dari perihal yang mudah kemudian meningkat ke yang sulit dan akhirnya menetapkan suatu batas akhir kepada manusia: memperingatkan bahwa manusia tidak akan mendapatkan kepastian tentang Tuhan melebihi yang telah disampaikan Alquran. Alquran menuntun akal manusia, mendidik, dan memberitahu batas kemampuannya, namun ia tidak mengekang akal manusia. Sebaliknya, Allah membiarkan manusia yang ingin berspekulasi. Kebijaksanaan ini adalah bukti penghargaan Allah terhadap kebebasan yang dikaruniakan-Nya kepada manusia, apakah dia nantinya lebih percaya akalnya atau firman-Nya. Setelah melalang buana dan berpikir tentang Tuhan melebihi batas yang ditetapkan Alquran, banyak muslim yang kembali kepada Alquran dengan iman dan ketawadukan yang besar, tetapi ada pula yang terlepas dari iman kepada kitab-Nya. Pendukung trinitas menyebut konsep tauhid sebagai monoteisme sederhana. Mereka mengatakan bahwa konsep trinitas menyempurnakan paham tauhid, apa maksudnya? Setelah berabad-abad trinitas ini dipikirkankan, dibicarakan, dan diperdebatkan oleh semua teolog Kristen, akhirnya ia hanya berfungsi sebagai rumusan simbolik yang mengantarkan teolog Kristen kepada kenyataan bahwa �Tuhan adalah misteri�, hal yang juga tersampaikan oleh konsep tauhid secara gamblang dan mudah. Di sini, tampak bahwa konsep trinitas bagaikan gergaji mesin (yang bahkan rusak), sedangkan konsep tauhid itu seperti sebilah pisau kecil di hadapan satu helai rumput. Tak perlu gergaji mesin untuk memotong sehelai rumput! Sudah berat menggunakannya, berbahaya, menghabiskan banyak energi yang tak perlu, dan tidak semua orang mampu mengoperasikannya. Cukup pisau kecil untuk memotong sehelai rumput! Ringan, tidak berbahaya dan semua orang yang berakal sehat dapat mengoperasikannya. Telah nampak dengan jelas bahwa di dalam kitab suci Alquran, Islam menjelaskan tentang Yesus (Nabi Isa a.s.) dan kelahirannya, tugas kenabiannya, mukjizat yang menyertainya, ajaran yang dibawanya, dan sebagainya, serta terdapat pula beberapa ayat yang membantah pemahaman tentang triteisme (tiga Tuhan) dan paham bahwa Tuhan mempunyai anak, seperti yang diyakini oleh kebanyakan umat Kristiani terhadap konsep trinitas, terutama yang sangat awam, di antaranya: �Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: (Tuhan itu) tiga,� berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, mahasuci Allah dari mempunyai anak, adalah segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.� (Q.S. al-Nisa� [4]: 171-173). Hasilnya adalah pengakuan yang sepantasnya bahwa konsep trinitas merupakan konsep polemis dan problematis sehingga sungguh tak layak menjadi konsep ketuhanan dari agama yang benar. Sebaliknya, tauhid adalah konsep ketuhanan yang ideal, bersumber kuat dari nas-nas kitab suci yang eksplisit dan tersampaikan secara tepat sesuai kapasitas manusia terhadap pengetahuan tentang Tuhan. Konsep ketuhanan ini yang kiranya layak terdapat pada agama yang benar. Kelebihan akan segera nampak ketika pembaca memasuki bagian awal dari buku ini. Penulis mengungkapkan fakta-fakta religius disertai dengan bukti-bukti rasional yang membuat buku ini semakin nyata dengan sajian kalimat-kalimat filosofis dari dirinya sendiri, para ahli, serta kutipan-kutipan ayat kitab suci dari berbagai macam agama dan aliran, khusunya kitab suci agama Islam, Alquran. Manusia mencari Tuhan karena desakan aspek rohani dalam dirinya. Pencarian ini tak lain adalah untuk mengakhiri kegelisahan jiwa dan menemukan konsep ketuhanan yang menenteramkan. Di sinilah peran utama agama-agama. Hanya saja, pluralitas agama menuntut kita untuk menyikapinya secara arif dan dewasa, sebab klaim kebenaran dari tiap-tiap agama dapat menjadi penebar petaka. Di sisi lain, kebutuhan kita akan keyakinan mendalam tentang Tuhan menuntut kita untuk menentukan sikap pribadi terhadap agama-agama. Sejumlah kalangan menyikapi kemajemukan agama dengan membenarkan dan menganggap sama semua agama. Namun, sebagian besar kita, termasuk buku ini, meyakini bahwa hanya ada satu agama yang benar dan autentik. Setelah menekankan pentingnya kehendak bebas dan kemampuan manusia untuk memilih, buku ini mengajak kita mencari salah satu agama untuk dimenangkan �di bilik keyakinan kita�. Menurut buku ini, hasil akhir dari pencarian itu bisa jadi hanyalah mengubah iman dogmatis menjadi iman argumentatif. Namun, pencarian itu bisa juga mengubah pelakunya menjadi seorang mualaf. Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencari agama yang benar, dan membandingkan konsep ketuhanan merupakan salah satunya. Buku ini berfokus pada konsep tauhid dan trinitas. Nilai lebihnya tak hanya terletak pada ulasan tentang kritik-kritik mutakhir atas konsep tauhid dan trinitas, tetapi juga pada uraian pengalaman sang penulis dalam mencari agama yang benar. Selain memiliki kelebihan, buku ini juga memiliki sisi kekurangan. Penulis banyak menggunakan istilah-istilah atau bahasa tingkat tinggi yang sulit dipahami secara langsung oleh pembaca yang awam. Penulis mencamtumkan catatan kaki untuk kata-kata tertentu, namun ada beberapa istilah lain yang belum dapat dicerna oleh pembaca secara baik, yang tidak dikutip dalam catatan kaki. Kehadiran buku ini dalam dunia sastra di Indonesia patut diapresiasi, karena buku ini dapat membantu para pembaca dalam menghubungkan realitas kehidupan dengan dunia supranatural yang abstrak secara unik dengan analisis mendalam yang hasil akhirnya (memiliki kesimpulan) yang sederhana dan mudah dipahami. Diharapkan kehadiran buku ini mampu memberikan piranti-piranti teorotis yang nyata serta memadai dalam melakukan pembacaan terhadap fenomena kehidupan religius dalam lingkungan masyarakat. ****** ![]() Buku Sejenis Lainnya:
![]() Advertisement |